Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi): Penyebab, Gejala, dan Mengapa Sangat Penting Untuk Mengelolanya

Image by Prostock-Studio
Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, adalah salah satu penyakit kronis yang paling umum terjadi di seluruh dunia. Kondisi ini sering disebut sebagai silent killer karena dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala selama bertahun-tahun, tetapi tetap menyebabkan kerusakan pada organ-organ penting seperti jantung, otak, ginjal, dan mata.
Menurut World Health Organization (WHO), lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia hidup dengan hipertensi. Sayangnya, banyak penderita yang tidak menyadari kondisinya hingga mengalami komplikasi serius seperti serangan jantung atau stroke.
Kabar baiknya, hipertensi dapat dicegah dan dikendalikan melalui perubahan gaya hidup sehat, pemeriksaan tekanan darah secara rutin, serta pengobatan bila diperlukan.
Apa Itu Hipertensi
Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah terhadap dinding arteri berada di atas batas normal secara terus-menerus.
Tekanan darah terdiri dari dua angka, yaitu:
- Tekanan sistolik adalah tekanan saat jantung memompa darah
- Tekanan diastolik adalah tekanan saat jantung beristirahat di antara denyut
Secara umum:
| Kategori | Tekanan darah |
| Normal | : Kurang dari 120/80 mmHg |
| Meningkat | : 120 - 129/<80 mmHg |
| Hipertensi tingkat 1 | : 130-139 atau 80-89 mmHg |
| Hipertensi tingkat 2 | : ≥140 atau ≥90 mmHg |
| Krisis hipertensi | : ≥180 dan/atau ≥120 mmHg |
Hipertensi yang berlangsung lama memaksa jantung bekerja lebih keras sehingga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Baca juga: Berapa Tekanan Darah Normal Berdasarkan Usia
Seberapa Umum Hipertensi
Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian dini di dunia.
Beberapa fakta penting:
- Lebih dari 1 dari 4 orang dewasa mengalami hipertensi
- Risiko meningkat seiring bertambahnya usia
- Banyak penderita tidak mengetahui bahwa mereka memiliki tekanan darah tinggi
- Hipertensi menjadi faktor risiko utama stroke dan penyakit jantung
Penyebab Hipertensi
Hipertensi dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu:
1. Hipertensi primer
Sekitar 90-95% kasus hipertensi adalah hipertensi primer.
Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi dipengaruhi oleh kombinasi antara:
- Faktor genetik
- Penuaan
- Pola makan
- Gaya hidup
- Lingkungan
2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder terjadi akibat penyakit tertentu, misalnya:
- Penyakit ginjal
- Gangguan hormon
- Sleep apnea
- Penyakit tiroid
- Efek samping obat tertentu
- Penyempitan arteri ginjal
Mengatasi penyebab utamanya sering kali dapat membantu menurunkan tekanan darah.
Faktor Risiko Hipertensi
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami hipertensi adalah:
Faktor yang tidak dapat diubah:
- Usia lanjut
- Riwayat keluarga
- Jenis kelamin
- Faktor genetik
Faktor yang dapat diubah:
- Konsumsi garam berlebihan
- Obesitas
- Kurang aktivitas fisik
- Merokok
- Konsumsi alkohol
- Stres berkepanjangan
- Kurang tidur
- Diabetes
- Kolesterol tinggi
Gejala Hipertensi
Sebagian besar pengidap hipertensi tidak mengalami gejala apapun.
Namun bila tekanan darah sangat tinggi, gejala yang bisa dialami adalah:
- Sakit kepala berat
- Pusing
- Penglihatan kabur
- Mimisan
- Sesak napas
- Nyeri dada
- Jantung berdebar
- Mudah lelah
Karena sering tidak bergejala, pemeriksaan tekanan darah secara rutin sangat penting.
Bagaimana Hipertensi Didiagnosis
Biasanya, hipertensi didiagnosis dengan menggunakan tensimeter (pengukur tekanan darah).
Dokter biasanya melakukan:
- Pengukuran berulang
- Pemeriksaan riwayat kesehatan
- Pemeriksaan fisik
- Pemeriksaan laboratorium
- Elektrokardiogram (EKG)
- Pemeriksaan fungsi ginjal
- Pemeriksaan kolesterol
- Pemeriksaan gula darah
Pada beberapa kasus, Dokter mungkin menyarankan pemantauan tekanan darah di rumah atau selama 24 jam.
Komplikasi Hipertensi
Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius seperti:
- Penyakit jantung
- Stroke
- Penyakit ginjal
- Kerusakan mata
- Demensia
Baca selengkapnya di: Komplikasi Hipertensi: Risiko Penyakit Jantung, Stroke, dan Lainnya
Cara Mengobati Hipertensi
Pengobatan bertujuan untuk mengurangi tekanan darah dan mencegah komplikasi.
1. Perubahan gaya hidup
Perubahan gaya hidup meliputi:
- Mengurangi konsumsi garam
- Memperbanyak buah dan sayur
- Menjaga berat badan ideal
- Berolahraga secara rutin
- Berhenti merokok
- Membatasi alkohol
- Mengelola stres
- Tidur yang cukup
2. Obat hipertensi
Dokter dapat meresepkan obat sesuai kondisi pasien, seperti:
- Diuretik
- ACE inhibitor
- Angiotensin receptor blocker (ARB)
- Calcium channel blocker (CCB)
- Beta blocker
Obat harus diminum sesuai petunjuk Dokter, dan tidak boleh dihentikan tanpa konsultasi.
Cara Mencegah Hipertensi
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Batasi asupan garam
Pengidap hipertensi disarankan untuk mengonsumsi kurang dari 5 gram garam per hari.
2. Terapkan pola makan sehat
Perbanyak konsumsi:
- Sayuran
- Buah-buahan
- Gandum utuh
- Protein rendah lemak
- Kacang-kacangan
Kurangi makanan olahan dan tinggi lemak jenuh.
3. Olahraga
Usahakan untuk olahraga dengan intensitas sedang, minimal 30 menit per hari.
Baca juga: Olahraga Untuk Penderita Hipertensi: Panduan Lengkap Untuk Menjaga Kesehatan Jantung
4. Pertahankan berat badan ideal
Penurunan berat badan dapat membantu menurunkan tekanan darah secara signifikan.
5. Berhenti merokok
Merokok meningkatkan risiko penyakit jantung dan kerusakan pembuluh darah.
6. Batasi alkohol
Asupan alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah.
7. Kelola stres
Meditasi, yoga, relaksasi, atau hobi dapat membantu mengurangi stres.
Baca juga: Tekanan Darah Tinggi: Apakah Stres Dapat Memicunya
8. Periksa tekanan darah secara berkala
Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi hipertensi sejak dini.
Makanan yang Baik Untuk Pengidap Hipertensi
Beberapa makanan yang dapat membantu menjaga tekanan darah:
- Pisang
- Bayam
- Alpukat
- Oat
- Ikan salmon
- Yogurt rendah lemak
- Kacang almond
- Ubi
- Bit
- Bawang putih
Makanan Yang Sebaiknya Dibatasi
Penderita hipertensi sebaiknya mengurangi konsumsi:
- Makanan tinggi garam
- Makanan cepat saji
- Daging olahan
- Keripik
- Makanan kaleng
- Minuman manis
- Minuman beralkohol
Kapan Harus ke Dokter
Segera konsultasi dengan dokter jika:
- Tekanan darah terus berada di atas 140/90 mmHg
- Tekanan darah tetap tinggi meski sudah menjalani pola hidup sehat
- Mengalami nyeri dada, sesak napas, atau gangguan penglihatan
- Tekanan darah mencapai 180/120 mmHg atau lebih, terutama bila disertai gejala seperti sakit kepala hebat, nyeri dada, sesak napas, kebingungan, atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh
Kesimpulan
Hipertensi merupakan penyakit kronis yang sering kali tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak dikendalikan. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin, penerapan gaya hidup sehat, dan kepatuhan terhadap pengobatan merupakan langkah utama untuk menjaga tekanan darah tetap normal dan mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, serta kerusakan organ lainnya.
Baca juga: Hipertensi Gestasional: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengelolanya
FAQ Seputar Hipertensi
Beberapa pertanyaan umum mengenai hipertensi adalah:
Apakah hipertensi bisa disembuhkan?
Hipertensi primer umumnya tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan melalui pola hidup sehat dan obat-obatan. Pada hipertensi sekunder, tekanan darah dapat membaik jika penyebab utamanya berhasil diatasi.
Berapa tekanan darah yang dianggap normal?
Tekanan darah normal pada orang dewasa adalah kurang dari 120/80 mmHg.
Apakah hipertensi selalu menimbulkan gejala?
Tidak. Sebagian besar penderita tidak merasakan gejala apapun, sampai-sampai hipertensi dikenal sebagai silent killer.
Apakah orang muda bisa terkena hipertensi?
Ya. Gaya hidup tidak sehat, obesitas, konsumsi garam berlebih, kurang aktivitas fisik, stres, serta faktor keturunan dapat menyebabkan hipertensi pada usia muda.
Apakah olahraga dapat menurunkan tekanan darah?
Ya. Aktivitas fisik rutin dapat membantu menurunkan tekanan darah, meningkatkan kesehatan jantung, dan mengurangi risiko komplikasi hipertensi.