Diare: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dan Pencegahannya

Diare: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dan Pencegahannya
Image by bymuratdeniz

Diare adalah kondisi ketika seseorang buang air besar (BAB) lebih sering dari biasanya dengan tinja yang encer atau berair. Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari bayi dan anak-anak, hingga orang dewasa. Umumnya, diare hanya berlangsung selama beberapa hari. Namun pada kondisi yang parah, diare bisa menyebabkan dehidrasi dan komplikasi serius.

Penyebab diare cukup beragam, mulai dari infeksi virus dan bakteri, keracunan makanan, intoleransi makanan, hingga efek samping obat-obatan. Memahami penyebab diare, mengenali gejalanya, serta mengetahui cara mengatasi diare dengan tepat dapat membantu mempercepat pemulihan dan mencegah komplikasi.

Baca juga: Diare Pada Bayi: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

 

Apa Itu Diare?

Diare merupakan gangguan pencernaan yang ditandai dengan buang air besar sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari, dengan tinja berbentuk cair atau encer. Namun, frekuensi BAB yang meningkat saja belum tentu menandakan diare, terutama jika memang merupakan pola normal seseorang.

Berdasarkan durasinya, diare dapat dibedakan menjadi:

  • Diare akut: Berlangsung kurang dari 14 hari dan sering disebabkan oleh infeksi atau makanan yang terkontaminasi
  • Diare persisten: Berlangsung selama 14 hari atau lebih
  • Diare kronis: Berlangsung selama empat minggu atau lebih, yang dapat berkaitan dengan gangguan pencernaan tertentu

Jika diare yang berlangsung lama atau disertai gejala berat, segera konsultasi dengan Dokter untuk mengetahui penyebabnya.

 

Penyebab Diare Yang Perlu Diketahui

Berikut adalah beberapa penyebab diare yang perlu diketahui:

 

1. Infeksi virus, bakteri, atau parasit

Infeksi saluran pencernaan merupakan salah satu penyebab utama diare. Virus seperti norovirus dan rotavirus dapat memicu peradangan pada saluran pencernaan. Sementara itu, bakteri seperti Escherichia coli, Salmonella, dan Campylobacter dapat masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Parasit tertentu, seperti Giardia, juga dapat menyebabkan diare, terutama akibat konsumsi air yang tidak aman.

Baca juga: Escherichia Coli (E. Coli): Penyebab, Gejala, Penularan, dan Pencegahan

 

2. Keracunan makanan

Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi mikroorganisme berbahaya atau racunnya dapat menyebabkan diare. Makanan yang tidak dimasak hingga matang, penyimpanan yang tidak tepat, serta kebersihan tangan dan peralatan makan yang buruk dapat meningkatkan risiko keracunan makanan.

Baca juga: Keracunan Makanan (Food Poisoning): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

 

3. Intoleransi makanan

Sebagian orang mengalami diare setelah mengonsumsi makanan tertentu. Contohnya adalah intoleransi laktosa, yaitu kondisi ketika tubuh kesulitan mencerna laktosa dalam susu dan produk olahannya. Diare juga dapat berkaitan dengan penyakit celiac atau sensitivitas terhadap makanan tertentu, meskipun penyebab dan mekanismenya berbeda-beda.

Baca juga: Intoleransi Laktosa: Gejala, Penyebab, dan Makanan Yang Tidak Boleh Dikonsumsi

 

4. Efek samping obat-obatan

Antibiotik, obat yang mengandung magnesium, dan beberapa jenis obat lainnya dapat menyebabkan diare. Antibiotik juga dapat mengganggu keseimbangan bakteri normal di usus, sehingga meningkatkan risiko diare terkait antibiotik. Jika diare muncul setelah mengonsumsi obat, konsultasi dengan Dokter atau apoteker. Jangan menghentikan obat resep tanpa arahan tenaga medis.

 

5. Gangguan pencernaan

Diare berulang atau berkepanjangan terkadang berkaitan dengan kondisi seperti sindrom iritasi usus besar (irritable bowel syndrome atau IBS), penyakit Crohn, kolitis ulseratif, dan gangguan penyerapan nutrisi.

Baca juga: Sindrom Iritasi Usus Besar (IBS): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

 

Gejala Diare

Gejala diare bisa berbeda-beda, tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya.

Beberapa gejala yang umum adalah:

  • BAB lebih sering dengan tinja cair atau encer
  • Kram atau nyeri perut
  • Perut kembung
  • Mual dan muntah
  • Dorongan mendadak untuk BAB
  • Demam, terutama jika disebabkan oleh infeksi

Pada kasus tertentu, diare juga bisa disertai darah atau lendir pada tinja. Gejala tersebut perlu diwaspadai, dan sebaiknya diperiksakan oleh Dokter.

 

Dehidrasi Akibat Diare

Diare dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit. Jika cairan yang hilang tidak digantikan, dehidrasi bisa terjadi.

Beberapa tanda-tanda dehidrasi umum adalah:

  • Rasa haus berlebihan
  • Mulut dan bibir kering
  • Urine berwarna lebih gelap atau jumlahnya berkurang
  • Pusing dan tubuh terasa lemas
  • Mata tampak cekung, terutama pada anak-anak

Dehidrasi berat dapat menyebabkan penurunan kesadaran, gangguan sirkulasi, dan kondisi yang mengancam jiwa. Segera cari pertolongan medis jika muncul tanda dehidrasi berat.

Baca juga: Dehidrasi: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

 

Cara Mengatasi Diare

Sebagian besar kasus diare akut bisa membaik dengan perawatan yang tepat. Fokus utama penanganan adalah mengganti cairan yang hilang, dan memastikan tubuh tetap mendapatkan nutrisi.

 

1. Minum oralit

Oralit merupakan larutan yang mengandung air, glukosa, dan elektrolit untuk membantu menggantikan cairan serta garam yang hilang akibat diare. Larutkan oralit sesuai petunjuk pada kemasan dan gunakan jumlah air yang tepat.

Minumlah sedikit demi sedikit tetapi sering, terutama jika disertai mual. Untuk bayi dan anak-anak, berikan oralit sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.

Air putih juga sangat penting untuk memenuhi kebutuhan cairan, tetapi pada diare yang menyebabkan kehilangan cairan cukup banyak, oralit lebih tepat untuk mengganti elektrolit yang hilang.

Baca juga: 5 Jenis Elektrolit dan Pentingnya Bagi Kesehatan Tubuh

 

2. Tetap makan dengan Porsi Kecil

Jangan sengaja berpuasa selama diare. Makan makanan yang mudah empuk, seperti nasi, bubur, kentang, sup, pisang, telur matang, dan makanan berprotein yang dimasak hingga lunak. Makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering dapat membantu memenuhi kebutuhan energi selama pemulihan.

 

3. Hindari makanan yang memperburuk gejala

Selama diare, batasi makanan atau minuman yang dapat memperburuk gejala, seperti:

  • Makanan tinggi lemak atau gorengan
  • Makanan yang sangat pedas
  • Minuman tinggi gula, termasuk sebagian minuman bersoda
  • Minuman berkafein jika memperburuk keluhan
  • Susu dan produk olahannya jika menyebabkan gejala intoleransi laktosa

Tidak semua orang perlu menghindari makanan yang sama. Pilih makanan berdasarkan toleransi tubuh dan jangan membatasi pola makan secara berlebihan.

 

4. Istirahat dan jaga kebersihan

Usahakan untuk cukup beristirahat, atau istirahat total, untuk membantu tubuh pulih. Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah menggunakan toilet, serta sebelum menyiapkan atau menyantap makanan. Hindari menyiapkan makanan untuk orang lain ketika sedang mengalami diare yang diduga menular, terutama jika bekerja menangani makanan.

 

5. Gunakan obat diare dengan hati-hati

Obat antidiare tertentu, seperti loperamide, dapat digunakan oleh sebagian orang dewasa dengan diare akut tanpa tanda bahaya. Namun, obat ini tidak cocok untuk semua kondisi.

Hindari penggunaan obat yang memperlambat gerakan usus tanpa arahan tenaga medis jika diare disertai demam tinggi atau tinja berdarah. Antibiotik juga tidak diperlukan pada sebagian besar kasus diare dan hanya digunakan jika terdapat indikasi medis.

Jangan memberikan obat antidiare kepada anak-anak tanpa anjuran Dokter.

 

Makanan Yang Dianjurkan Saat Diare

Makanan yang dianjurkan saat diare adalah makanan yang mudah dicerna dan tetap memenuhi kebutuhan nutrisi.

Beberapa pilihan yang dapat dikonsumsi adalah:

  • Bubur atau nasi putih: Sumber karbohidrat yang relatif mudah ditoleransi
  • Pisang: Mengandung kalium yang membantu mengganti sebagian elektrolit yang hilang
  • Sup bening: Membantu menambah asupan cairan dan menyediakan nutrisi
  • Telur matang: Sumber protein untuk mendukung pemulihan
  • Kentang rebus: Sumber karbohidrat dan kalium
  • Roti tawar: Dapat menjadi pilihan jika mudah ditoleransi

Sesuaikan pilihan makanan dengan kondisi tubuh. Setelah gejala membaik, secara bertahap kembalilah ke pola makan bergizi seimbang.

 

Kapan Harus ke Dokter

Segera cari pertolongan medis jika diare disertai salah satu kondisi berikut:

  • Tinja berdarah atau berwarna hitam seperti aspal
  • Nyeri perut hebat atau terus-menerus
  • Demam tinggi atau kondisi tubuh semakin memburuk
  • Muntah terus-menerus sehingga sulit minum
  • Tanda dehidrasi berat, seperti sangat lemas, kebingungan, atau urine sangat sedikit
  • Diare tidak membaik dalam beberapa hari atau berlangsung lebih dari dua hari pada orang dewasa

Bayi, anak kecil, lansia, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah, perlu mendapatkan perhatian lebih karena berisiko mengalami komplikasi. Pada bayi, terutama jika muncul penurunan asupan ASI atau susu, popok lebih jarang basah, atau bayi tampak lesu, segera konsultasi dengan Dokter.

 

Cara Mencegah Diare

Pencegahan diare dapat dilakukan melalui kebiasaan hidup bersih dan aman, antara lain:

  • Cuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, dan setelah dari toilet
  • Minum air yang aman dan telah diolah dengan benar
  • Masak daging, telur, dan makanan laut hingga matang
  • Cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi
  • Simpan makanan pada suhu yang sesuai dan hindari makanan yang sudah rusak
  • Gunakan peralatan makan yang bersih dan hindari kontaminasi silang antara bahan mentah dan makanan matang
  • Pastikan vaksinasi rotavirus pada bayi sesuai jadwal imunisasi yang dianjurkan

Kebiasaan tersebut dapat membantu mengurangi risiko infeksi penyebab diare.

 

Kesimpulan

Diare merupakan gangguan pencernaan yang dapat disebabkan oleh infeksi, makanan terkontaminasi, intoleransi makanan, obat-obatan, atau penyakit tertentu. Penanganan utama diare adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang menggunakan oralit, tetap mengonsumsi makanan bergizi, serta menjaga kebersihan.

Kenali tanda bahaya seperti dehidrasi, tinja berdarah, dan nyeri perut hebat agar penanganan medis dapat dilakukan tepat waktu. Jika diare berkepanjangan atau sering berulang, konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.

 

FAQ Diare

Beberapa pertanyaan umum seputar diare adalah:

Apa penyebab diare yang paling umum?

Diare paling sering disebabkan oleh infeksi saluran pencernaan akibat virus, bakteri, atau parasit. Penyebab lainnya meliputi keracunan makanan, intoleransi makanan, efek samping obat, dan gangguan pencernaan.

Bagaimana cara mengatasi diare dengan cepat?

Langkah utama adalah minum oralit sesuai petunjuk, memenuhi kebutuhan cairan, tetap makan makanan yang mudah ditoleransi, dan beristirahat. Periksakan diri jika muncul tanda bahaya atau gejala tidak membaik.

Apakah pisang baik untuk penderita diare?

Ya, pisang umumnya dapat dikonsumsi saat diare karena mudah ditoleransi oleh banyak orang dan mengandung kalium. Namun, pisang bukan pengganti oralit untuk mengatasi kehilangan cairan dan elektrolit.

Berapa lama diare biasanya berlangsung?

Diare akut umumnya membaik dalam beberapa hari. Jika berlangsung 14 hari atau lebih, diare termasuk persisten dan perlu dievaluasi. Segera cari bantuan medis jika terdapat gejala berat tanpa menunggu durasi tersebut.

Apakah diare boleh minum susu?

Tergantung penyebab dan toleransi tubuh. Setelah diare, sebagian orang mengalami kesulitan sementara mencerna laktosa. Jika susu memperburuk kembung atau diare, batasi sementara dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika keluhan berlanjut.

Kapan diare berbahaya?

Diare termasuk berbahaya jika menyebabkan dehidrasi berat, disertai tinja berdarah, nyeri perut hebat, demam tinggi, atau muntah terus-menerus. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan medis segera.

Published : 30/11/2022
Written By : The Healthy Belly

You Might Like

More Post >
GAGAL GINJAL: JENIS MAKANAN YANG HARUS DIKONSUMSI SETELAH ‘CUCI DARAH’
Continue Reading
Dampak Buruk Alkohol Bagi Kesehatan Tubuh
Continue Reading
MEET the AUTHOR
The Healthy Belly

Discussion

Top Picks

Diare Pada Bayi: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Continue Reading
Preeklamsia (Toksemia) Dalam Kehamilan: Penyebab, Gejala, dan Pencegahan
Continue Reading
Dampak Obesitas Bagi Kesuburan Wanita Yang Perlu Diketahui
Continue Reading
Penyakit Kelima (Erythema Infektiosum): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya
Continue Reading