Anemia Defisiensi Besi: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Langkah Pencegahan

Anemia Defisiensi Besi: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Langkah Pencegahan
Image by AsiaVision

Apa Itu Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi adalah jenis anemia yang terjadi ketika tubuh kekurangan zat besi sehingga tidak dapat memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup.

Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang berfungsi untuk membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Ketika kadar hemoglobin terlalu rendah, jaringan tubuh tidak mendapatkan oksigen secara optimal. Akibatnya, seseorang bisa mudah lelah, lemas, pusing, sulit berkonsentrasi, atau sesak napas.

Anemia defisiensi besi merupakan salah satu jenis anemia yang paling umum dan dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak, remaja, wanita usia subur, ibu hamil, dan orang dewasa.

Baca juga: Hemoglobin: Fungsi, Kadar Normal, dan Cara Menjaganya


Penyebab Anemia Defisiensi Besi

Kekurangan zat besi bisa terjadi karena asupan zat besi yang tidak mencukupi, kebutuhan tubuh yang meningkat, penyerapan zat besi yang terganggu, atau kehilangan darah. Beberapa penyebab anemia defisiensi besi adalah:

 

1. Kurang mengonsumsi makanan mengandung zat besi

Pola makan yang rendah zat besi dapat menyebabkan cadangan zat besi tubuh berkurang secara bertahap. Risiko ini dapat meningkat jika seseorang memiliki pola makan yang sangat terbatas atau tidak mendapatkan sumber zat besi yang cukup.

 

2. Kehilangan darah

Pada wanita, menstruasi yang berlangsung lama atau sangat banyak dapat meningkatkan kehilangan zat besi. Selain itu, perdarahan saluran pencernaan pada pria dewasa serta wanita yang sudah menopause, juga bisa merupakan salah satu penyebab.

 

3. Kebutuhan zat besi meningkat

Tubuh membutuhkan lebih banyak zat besi pada periode tertentu, terutama selama kehamilan dan masa pertumbuhan anak serta remaja. Jika kebutuhan tersebut tidak diimbangi dengan asupan atau suplementasi yang sesuai, cadangan zat besi dalam tubuh bisa menurun.

 

4. Gangguan penyerapan zat besi

Beberapa kondisi pada saluran pencernaan dapat mengganggu penyerapan zat besi. Operasi tertentu pada saluran pencernaan maupun penyakit yang memengaruhi usus juga dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi.


Gejala Anemia Defisiensi Besi

Gejala anemia defisiensi besi dapat berkembang secara perlahan, sehingga terkadang tidak disadari pada tahap awal.

Gejala yang bisa dialami adalah:

  • Mudah lelah dan lemas
  • Kulit terlihat lebih pucat
  • Pusing atau sakit kepala
  • Sesak napas, terutama saat beraktivitas
  • Jantung berdebar
  • Sulit berkonsentrasi
  • Tangan dan kaki terasa dingin
  • Mudah merasa lemah
  • Kuku rapuh
  • Lidah terasa sakit atau meradang

Gejala anemia bisa berbeda pada setiap orang, dan tidak selalu berarti seseorang mengalami anemia defisiensi besi. Pemeriksaan darah diperlukan untuk memastikan diagnosis.


Siapa yang Berisiko Mengalami Anemia Defisiensi Besi?

Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekurangan zat besi, antara lain:

  • Bayi dan anak-anak yang sedang mengalami pertumbuhan pesat
  • Remaja
  • Wanita dengan menstruasi berat
  • Ibu hamil
  • Orang yang memiliki pola makan rendah zat besi
  • Orang dengan gangguan penyerapan zat besi
  • Orang yang mengalami kehilangan darah kronis
  • Orang yang sering melakukan donor darah


Cara Mendiagnosis Anemia Defisiensi Besi

Diagnosis tidak hanya didasarkan pada gejala. Dokter biasanya melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah seseorang mengalami anemia dan apakah kekurangan zat besi menjadi penyebabnya.

Pemeriksaan biasanya mencakup:

  • Complete blood count (CBC) atau hitung darah lengkap, termasuk kadar hemoglobin dan karakteristik sel darah merah
  • Kadar ferritin, yaitu salah satu indikator cadangan zat besi tubuh

Pada anemia defisiensi besi, sel darah merah umumnya berukuran lebih kecil dan mengandung lebih sedikit hemoglobin.

Jika ditemukan anemia defisiensi besi, Dokter juga perlu mencari penyebabnya, terutama jika terjadi pada pria atau wanita yang sudah tidak mengalami menstruasi.

 

Cara Mengatasi Anemia Defisiensi Besi

Pengobatan anemia defisiensi besi bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya.

 

1. Mengonsumsi makanan tinggi zat besi

Sumber zat besi bisa berasal dari makanan hewani maupun nabati.

Beberapa makanan yang mengandung zat besi adalah:

  • Daging merah
  • Hati dan jeroan
  • Ayam
  • Ikan dan makanan laut
  • Telur
  • Kacang-kacangan
  • Tahu dan tempe
  • Sayuran

Zat besi dari sumber hewani umumnya lebih mudah diserap tubuh dibandingkan zat besi non-heme yang terdapat terutama pada makanan nabati.

Baca juga: 8 Makanan Kaya Akan Zat Besi

 

2. Suplemen zat besi

Jika asupan makanan tidak cukup untuk mengatasi kekurangan zat besi, dokter dapat merekomendasikan suplemen zat besi.

Suplemen sebaiknya dikonsumsi sesuai anjuran tenaga kesehatan karena dosis yang dibutuhkan dapat berbeda pada setiap orang. Mengonsumsi zat besi dalam jumlah berlebihan juga dapat menimbulkan efek samping dan berbahaya.

 

3. Mengatasi penyebabnya

Mengatasi kadar zat besi yang rendah saja tidak selalu cukup. Jika anemia disebabkan oleh perdarahan, gangguan penyerapan, atau kondisi medis tertentu, penyebab tersebut juga perlu ditangani.

 

Cara Membantu Penyerapan Zat Besi

Selain memilih makanan tinggi zat besi, pola makan juga dapat memengaruhi penyerapan zat besi.

Vitamin C dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi non-heme. Oleh karena itu, makanan sumber zat besi nabati dapat dikombinasikan dengan sumber vitamin C seperti jeruk, jambu biji, stroberi, tomat, atau paprika.

Sebaliknya, teh dan kopi yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan dapat mengurangi penyerapan zat besi karena mengandung senyawa tertentu yang menghambat penyerapannya.

 

Anemia Defisiensi Besi Pada Ibu Hamil

Kehamilan meningkatkan kebutuhan zat besi karena tubuh membutuhkan zat besi tambahan untuk mendukung peningkatan volume darah serta pertumbuhan janin dan plasenta.

Kekurangan zat besi selama kehamilan dapat menyebabkan anemia dan perlu ditangani dengan tepat. Ibu hamil sebaiknya melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan mengonsumsi suplemen prenatal atau zat besi sesuai rekomendasi dokter atau bidan.

Baca juga: Pentingnya Zat Besi Bagi Ibu Hamil dan Janin

 

Apakah Anemia Defisiensi Besi Bisa Dicegah?

Tidak semua kasus anemia defisiensi besi bisa dicegah, tetapi risiko kekurangan zat besi dapat dikurangi dengan pola makan seimbang dan mencukupi kebutuhan zat besi.

Beberapa langkah pencegahan yang dapat diambil adalah:

  • Konsumsi makanan kaya akan zat besi secara rutin
  • Padukan sumber zat besi nabati dengan makanan kaya vitamin C
  • Perhatikan kebutuhan zat besi selama kehamilan dan masa pertumbuhan
  • Jangan mengonsumsi suplemen zat besi tanpa alasan atau dosis yang jelas
  • Periksakan diri jika mengalami menstruasi sangat banyak atau gejala anemia
  • Jika mengalami anemia, cari tahu penyebabnya agar dapat ditangani dengan tepat


Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan dengan dokter jika mengalami kelelahan yang tidak biasa, pucat, sesak napas, jantung berdebar, pusing berulang, atau gejala lain yang mengarah pada anemia.

Pemeriksaan juga penting jika terdapat tanda kehilangan darah, seperti menstruasi yang sangat banyak atau darah pada tinja.

Jangan menganggap semua anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi. Jenis anemia lain memiliki penyebab dan penanganan yang berbeda. Pemeriksaan medis diperlukan sebelum memulai terapi zat besi dalam dosis tinggi.

 

FAQ Seputar Anemia Defisiensi Besi

Beberapa pertanyaan umum seputar anemia defisiensi besi adalah:

Apa itu anemia defisiensi besi?

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi ketika tubuh kekurangan zat besi sehingga produksi hemoglobin dan sel darah merah yang sehat terganggu.

Apa gejala anemia defisiensi besi?

Gejalanya dapat berupa mudah lelah, lemas, pucat, pusing, sakit kepala, sesak napas, jantung berdebar, sulit berkonsentrasi, dan tangan atau kaki terasa dingin.

Apa penyebab utama anemia defisiensi besi?

Penyebabnya dapat berupa asupan zat besi yang rendah, kebutuhan zat besi yang meningkat, kehilangan darah, atau gangguan penyerapan zat besi.

Apa makanan yang tinggi zat besi?

Beberapa sumber zat besi adalah daging merah, hati, ayam, ikan, makanan laut, telur, kacang-kacangan, tahu, tempe, sayuran hijau, dan makanan yang difortifikasi zat besi.

Apakah vitamin C membantu mengatasi kekurangan zat besi?

Vitamin C dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi non-heme dari makanan nabati. Namun, vitamin C bukan pengganti pengobatan jika seseorang sudah mengalami anemia defisiensi besi.

Apakah anemia defisiensi besi bisa sembuh?

Anemia defisiensi besi umumnya dapat ditangani, tetapi pengobatan perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Selain meningkatkan kadar zat besi, penyebab kekurangan zat besi juga perlu ditemukan dan ditangani.

Apakah semua orang dengan anemia membutuhkan suplemen zat besi?

Tidak. Anemia memiliki berbagai penyebab dan tidak semuanya disebabkan oleh kekurangan zat besi. Suplemen zat besi sebaiknya digunakan berdasarkan hasil pemeriksaan dan rekomendasi tenaga kesehatan.

Published : 20/12/2023
Written By : The Healthy Belly

You Might Like

More Post >
Angin Duduk (Angina Pectoris): Gejala, Penyebab, Serta Cara Mengelola dan Mencegahnya
Continue Reading
Penyakit Gondok: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya
Continue Reading
MEET the AUTHOR
The Healthy Belly

Discussion

Top Picks

Tauge: Kandungan Gizi dan Manfaat Kesehatannya
Continue Reading
Kangkung: Kandungan Gizi dan Manfaat Kesehatannya
Continue Reading
Sayur Pakcoy: Kandungan Gizi dan Manfaat Kesehatannya
Continue Reading
Daun Pepaya: Kandungan Gizi dan Manfaat Kesehatannya
Continue Reading