Anemia Pernisiosa (Defisiensi Vitamin B12): Penyebab, Gejala, Serta Cara Mengelola dan Mencegahnya

Image by Professor25
Anemia pernisiosa merupakan salah satu jenis anemia yang terjadi ketika tubuh mengalami kekurangan vitamin B12, karena tidak dapat menyerap vitamin tersebut dengan baik. Kondisi ini berbeda dari kekurangan vitamin B12 karena pola makan semata.
Vitamin B12 berperan penting dalam pembentukan sel darah merah, fungsi sistem saraf, serta sintesis DNA. Jika kekurangan vitamin B12 berlangsung lama, anemia pernisiosa tidak hanya menyebabkan kelelahan, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan saraf.
Apa Itu Anemia Pernisiosa
Anemia pernisiosa adalah jenis anemia akibat defisiensi vitamin B12 yang disebabkan oleh gangguan penyerapan vitamin B12 di dalam tubuh.
Dalam kondisi normal, vitamin B12 dari makanan membutuhkan bantuan protein, yang disebut “intrinsic factor”, agar dapat diserap di bagian akhir usus halus.
Pada anemia pernisiosa, sistem kekebalan tubuh dapat menyerang sel-sel di lambung yang menghasilkan intrinsic factor. Akibatnya, vitamin B12 tidak dapat diserap secara optimal meskipun seseorang mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin B12. Oleh karena itu, anemia pernisiosa termasuk penyakit autoimun.
Baca juga: Pentingnya Vitamin B12 Bagi Kesehatan Tubuh
Apakah Anemia Pernisiosa sama dengan Kekurangan Vitamin B12?
Tidak selalu.
Defisiensi vitamin B12 dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk:
- Kurangnya asupan makanan
- Gangguan penyerapan
- Penyakit tertentu
- Penggunaan obat tertentu
Sementara itu, anemia pernisiosa merupakan salah satu penyebab defisiensi vitamin B12, khususnya akibat tubuh kekurangan intrinsic factor atau tidak mampu menggunakannya secara efektif.
Penyebab Anemia Pernisiosa
Penyebab utama anemia pernisiosa adalah gangguan autoimun, yang membuat tubuh menyerang sel parietal lambung atau intrinsic factor. Akibatnya, penyerapan vitamin B12 terganggu.
Beberapa kondisi yang berkaitan dengan rendahnya kadar vitamin B12 adalah:
- Penyakit autoimun yang memengaruhi lambung
- Operasi lambung atau usus tertentu
- Penyakit yang mengganggu penyerapan nutrisi
- Gangguan pada saluran pencernaan
- Asupan vitamin B12 yang tidak mencukupi
- Penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang
Namun, kekurangan asupan vitamin B12 tidak sama dengan anemia pernisiosa. Diagnosis perlu dilakukan oleh Dokter berdasarkan gejala dan pemeriksaan laboratorium.
Siapa yang Berisiko Mengalami Anemia Pernisiosa?
Seseorang yang memiliki kondisi autoimun tertentu atau gangguan yang memengaruhi lambung dan penyerapan vitamin B12, lebih berisiko mengalami anemia pernisiosa
Kelompok yang memerlukan perhatian lebih adalah:
- Orang dengan penyakit autoimun tertentu
- Orang yang pernah menjalani operasi lambung atau usus
- Lansia dengan gangguan penyerapan vitamin B12
- Orang dengan penyakit saluran pencernaan tertentu
- Orang yang mengalami defisiensi vitamin B12
- Orang yang menjalani pola makan yang sangat rendah sumber vitamin B12
Pola makan rendah vitamin B12 dapat menyebabkan defisiensi, tetapi tidak secara otomatis berarti seseorang mengalami anemia pernisiosa.
Gejala Anemia Pernisiosa
Gejala anemia pernisiosa dapat berkembang secara perlahan, sehingga terkadang sulit dikenali pada tahap awal.
Beberapa gejala yang bisa dialami adalah:
1. Mudah lelah
Kekurangan sel darah merah yang sehat dapat mengurangi kemampuan tubuh membawa oksigen. Akibatnya, seseorang dapat merasa lelah, lemas, atau kurang bertenaga.
2. Kulit tampak pucat
Anemia bisa membuat kulit terlihat lebih pucat dari biasanya.
3. Sesak napas
Sesak napas, terutama saat melakukan aktivitas fisik, dapat terjadi ketika anemia menjadi cukup berat.
4. Jantung berdebar
Tubuh dapat meningkatkan kerja jantung untuk membantu memenuhi kebutuhan oksigen ketika jumlah sel darah merah berkurang.
5. Sakit kepala atau pusing
Sebagian orang dengan anemia dapat mengalami sakit kepala, pusing, atau sulit berkonsentrasi.
6. Lidah terasa sakit atau tampak merah
Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan perubahan pada lidah, termasuk rasa nyeri, sensitif, atau tampak lebih merah dan halus.
7. Kesemutan dan mati rasa
Vitamin B12 penting untuk kesehatan sistem saraf. Kekurangan yang berlangsung lama dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, atau sensasi seperti terbakar, terutama pada tangan dan kaki.
8. Gangguan keseimbangan
Defisiensi vitamin B12 yang berat atau berlangsung lama dapat memengaruhi fungsi saraf dan menyebabkan gangguan koordinasi atau keseimbangan.
9. Gangguan daya ingat dan konsentrasi
Sebagian orang dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, perubahan daya ingat, atau gangguan fungsi kognitif.
Bagaimana Anemia Pernisiosa Didiagnosis?
Dokter biasanya akan mempertimbangkan gejala, mengecek riwayat kesehatan, serta memeriksa fisik dan darah.
Pemeriksaan biasanya mencakup:
- Complete blood count (CBC) untuk melihat kondisi sel darah merah dan parameter darah lainnya
- Pemeriksaan kadar vitamin B12
- Pemeriksaan folat
- Pemeriksaan methylmalonic acid (MMA) atau pemeriksaan lain bila diperlukan
- Pemeriksaan antibodi tertentu untuk membantu mengetahui kemungkinan anemia pernisiosa
- Pemeriksaan tambahan untuk mencari penyebab anemia atau defisiensi vitamin B12
Hasil pemeriksaan perlu diinterpretasikan secara keseluruhan karena kadar vitamin B12 yang rendah tidak selalu berarti penyebabnya adalah anemia pernisiosa.
Pengobatan Anemia Pernisiosa
Pengobatan utama anemia pernisiosa bertujuan mengatasi kekurangan vitamin B12, dan mencegah komplikasi akibat defisiensi tersebut.
Pada anemia pernisiosa, Dokter dapat memberikan vitamin B12 dalam dosis terapeutik, termasuk melalui suntikan vitamin B12, terutama ketika penyerapan melalui saluran pencernaan terganggu.
Pada kondisi tertentu, vitamin B12 oral dengan dosis tinggi juga dapat digunakan sesuai penilaian Dokter.
Pengobatan biasanya perlu dilakukan secara teratur dan dapat berlangsung jangka panjang, terutama jika penyebab gangguan penyerapan vitamin B12 bersifat permanen.
Apakah Anemia Pernisiosa bisa Disembuhkan?
Anemia dan beberapa gejala akibat kekurangan vitamin B12 umumnya dapat membaik dengan pengobatan yang tepat.
Namun, anemia pernisiosa akibat autoimun membutuhkan penggantian vitamin B12 dalam jangka panjang atau seumur hidup.
Semakin lama defisiensi vitamin B12 tidak ditangani, semakin besar risiko terjadinya komplikasi pada sistem saraf.
Makanan Yang Mengandung Vitamin B12
Vitamin B12 secara alami terutama ditemukan dalam produk hewani, seperti:
- Daging
- Ikan dan makanan laut
- Telur
- Susu dan produk olahannya
- Hati dan jeroan tertentu
Beberapa makanan nabati juga mengandung vitamin B12 jika telah difortifikasi. Namun, pada anemia pernisiosa, mengonsumsi makanan tinggi vitamin B12 saja mungkin tidak cukup karena masalah utamanya adalah gangguan penyerapan. Oleh karena itu, pengobatan harus disesuaikan dengan penyebab dan tingkat defisiensinya.
Baca juga: 10 Makanan Kaya Akan Vitamin B12: Penting Untuk Pembentukan Sel Darah Merah
Komplikasi Kekurangan Vitamin B12
Jika tidak ditangani, defisiensi vitamin B12 dapat menyebabkan komplikasi, terutama pada sistem saraf.
Beberapa komplikasi yang bisa terjadi adalah:
- Kerusakan saraf
- Mati rasa atau kesemutan
- Gangguan keseimbangan
- Gangguan koordinasi
- Gangguan kognitif
- Anemia yang semakin berat
Kerusakan saraf yang sudah berlangsung lama dapat menjadi permanen. Karena itu, jangan mengabaikan gejala seperti kesemutan atau mati rasa yang disertai tanda-tanda anemia.
Cara Mencegah Defisiensi Vitamin B12
Tidak semua kasus anemia pernisiosa dapat dicegah, karena penyakit ini bisa berkaitan dengan proses autoimun.
Namun, risiko defisiensi vitamin B12 akibat asupan yang tidak mencukupi dapat dikurangi dengan:
- Mengonsumsi makanan sumber vitamin B12 secara cukup
- Memilih makanan yang difortifikasi vitamin B12 bila diperlukan
- Memperhatikan kebutuhan vitamin B12 pada pola makan vegetarian atau vegan
- Berkonsultasi dengan dokter jika memiliki kondisi yang dapat mengganggu penyerapan vitamin B12
- Melakukan pemeriksaan jika mengalami gejala yang mengarah pada anemia atau kekurangan vitamin B12
Kapan Harus Ke Dokter?
Segera konsultasi dengan Dokter jika mengalami:
- Kelelahan yang tidak biasa
- Pucat
- Sesak saat beraktivitas
- Jantung berdebar
- Kesemutan atau mati rasa
- Gangguan keseimbangan yang tidak diketahui penyebabnya
Pemeriksaan penting dilakukan karena gejala tersebut dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, bukan hanya anemia pernisiosa.
FAQ Anemia Pernisiosa
Beberapa pertanyaan seputar anemia pernisiosa adalah:
Apa itu anemia pernisiosa?
Anemia pernisiosa adalah jenis anemia akibat kekurangan vitamin B12 karena tubuh tidak dapat menyerap vitamin B12 dengan baik, umumnya karena kekurangan atau gangguan fungsi intrinsic factor.
Apa penyebab utama anemia pernisiosa?
Penyebab utamanya adalah proses autoimun yang menyerang sel parietal lambung atau intrinsic factor sehingga penyerapan vitamin B12 terganggu.
Apa saja gejala kekurangan vitamin B12?
Gejalanya dapat berupa mudah lelah, pucat, pusing, sesak, jantung berdebar, lidah sakit, kesemutan, mati rasa, gangguan keseimbangan, serta gangguan konsentrasi atau daya ingat.
Apakah anemia pernisiosa bisa sembuh?
Anemianya dapat dikontrol dengan pengobatan vitamin B12. Namun, jika disebabkan oleh gangguan penyerapan permanen, terapi penggantian vitamin B12 dapat diperlukan dalam jangka panjang.
Apakah anemia pernisiosa bisa diobati dengan makanan?
Makanan kaya vitamin B12 penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi pada anemia pernisiosa makanan saja mungkin tidak cukup karena tubuh mengalami gangguan dalam menyerap vitamin B12.
Apakah anemia pernisiosa berbahaya?
Jika tidak ditangani, kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia berat dan kerusakan sistem saraf. Diagnosis dan pengobatan dini membantu mengurangi risiko komplikasi.
Apakah suntik vitamin B12 diperlukan?
Suntikan vitamin B12 dapat digunakan pada anemia pernisiosa, terutama ketika penyerapan melalui saluran pencernaan terganggu. Jenis dan durasi terapi ditentukan oleh dokter.