Muntaber (Gastroenteritis): Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya di Rumah

Muntaber (Gastroenteritis): Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya di Rumah
Image by lunar_cat

Gastroenteritis, atau lebih dikenal sebagai muntaber di Indonesia, adalah peradangan pada lambung dan usus yang dapat menyebabkan mual, muntah, diare, sakit perut, dan demam. Kondisi ini cukup umum dan dapat dialami oleh siapa saja, mulai dari bayi dan anak-anak hingga orang dewasa.

Muntaber paling sering disebabkan oleh infeksi virus, tetapi bakteri, parasit, makanan atau minuman yang terkontaminasi, serta beberapa kondisi lainnya juga dapat menjadi penyebab.

Meski sebagian besar kasus dapat membaik dengan perawatan di rumah, muntaber bisa menyebabkan dehidrasi, terutama pada anak-anak, bayi, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu.


Apa Itu Muntaber

Muntaber adalah istilah yang umum digunakan untuk menggambarkan gastroenteritis, yaitu peradangan pada saluran pencernaan, terutama lambung dan usus.

Gastroenteritis dapat menyebabkan gangguan pada fungsi saluran pencernaan sehingga muncul gejala seperti diare dan muntah. Istilah "muntaber" sendiri bukan diagnosis medis khusus, melainkan istilah yang digunakan masyarakat untuk kondisi yang ditandai dengan muntah dan diare.

Muntaber akibat infeksi juga dapat menular dari satu orang ke orang lain, terutama jika kebersihan tangan, makanan, dan lingkungan tidak terjaga.


Penyebab Muntaber

Ada berbagai hal yang dapat menyebabkan gastroenteritis, yaitu:

 

1. Infeksi virus

Virus merupakan salah satu penyebab gastroenteritis yang paling umum. Beberapa virus yang dapat menyebabkan muntaber antara lain norovirus dan rotavirus. Infeksi virus dapat menyebar melalui kontak dengan orang yang terinfeksi, permukaan yang terkontaminasi, atau konsumsi makanan dan minuman yang tercemar.

Baca juga: Rotavirus: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahannya

 

2. Infeksi bakteri

Muntaber juga dapat disebabkan oleh bakteri yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Beberapa bakteri yang dapat menyebabkan gastroenteritis antara lain Escherichia coli, Salmonella, Campylobacter, dan Shigella.

Risiko meningkat jika makanan tidak dimasak hingga matang, penyimpanan makanan tidak tepat, atau kebersihan tangan dan peralatan makan kurang diperhatikan.

Baca juga: Escherichia Coli (E. Coli): Penyebab, Gejala, Penularan, dan Pencegahan

 

3. Infeksi parasit

Parasit tertentu juga dapat menyebabkan diare dan gangguan pencernaan. Penularannya dapat terjadi melalui air atau makanan yang terkontaminasi.

 

4. Keracunan makanan

Makanan yang terkontaminasi bakteri, virus, parasit, atau toksinnya dapat menyebabkan gejala gastrointestinal, termasuk muntah, diare, kram perut, dan terkadang demam. Gejala keracunan makanan dapat muncul dalam waktu yang berbeda-beda, tergantung penyebabnya.

Baca juga: Keracunan Makanan (Food Poisoning): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

 

5. Penyebab noninfeksi

Tidak semua gastroenteritis disebabkan oleh infeksi. Beberapa obat, intoleransi terhadap makanan tertentu, atau kondisi medis tertentu juga dapat menyebabkan gejala yang menyerupai gastroenteritis.


Gejala Muntaber

Gejala muntaber bisa berbeda-beda tergantung penyebab dan tingkat keparahannya.

Beberapa gejala umum meliputi:

  • Diare atau buang air besar lebih sering dari biasanya
  • Feses lebih cair
  • Mual
  • Muntah
  • Sakit atau kram perut
  • Perut terasa tidak nyaman
  • Demam
  • Sakit kepala atau tubuh terasa lemas
  • Nafsu makan menurun

Gejala biasanya berlangsung selama beberapa hari, tetapi lama penyakit bisa berbeda tergantung penyebabnya.

 

Muntaber Bisa Menyebabkan Dehidrasi

Salah satu komplikasi utama muntaber adalah dehidrasi, yaitu kondisi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang masuk.

Diare dan muntah yang berulang dapat menyebabkan tubuh kehilangan air dan elektrolit seperti natrium dan kalium.

Beberapa tanda-tanda dehidrasi yang perlu diperhatikan adalah:

  • Haus berlebihan
  • Mulut dan bibir kering
  • Buang air kecil lebih sedikit
  • Urine berwarna lebih gelap
  • Tubuh terasa lemas atau pusing
  • Mata tampak cekung
  • Mengantuk atau sulit dibangunkan pada kondisi berat

Pada bayi, jumlah popok basah yang berkurang, tidak adanya air mata ketika menangis, atau bayi menjadi sangat lemas dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.

 

Cara Mengatasi Muntaber di Rumah

Sebagian besar gastroenteritis ringan bisa membaik dengan sendirinya. Perawatan di rumah terutama bertujuan mencegah dehidrasi dan membantu tubuh pulih.

 

1. Perbanyak asupan cairan

Minumlah cairan secara teratur untuk menggantikan cairan yang hilang akibat diare dan muntah.

Jika mengalami muntah, cobalah minum dalam jumlah kecil tetapi lebih sering daripada langsung minum dalam jumlah banyak.

Oralit dapat digunakan untuk membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare.

Baca juga: 5 Jenis Elektrolit dan Pentingnya Bagi Kesehatan Tubuh

 

2. Tetap makan jika mampu

Jika nafsu makan sudah kembali, tidak perlu berpuasa. Makan makanan dalam porsi kecil, dan pilih makanan yang lebih mudah ditoleransi. Beberapa orang mungkin lebih nyaman menghindari makanan yang sangat berlemak atau pedas sementara waktu.

 

3. Istirahat

Tubuh membutuhkan energi untuk melawan infeksi dan memulihkan diri. Pastikan mendapatkan cukup istirahat selama mengalami muntaber.

 

4. Perhatikan kebersihan tangan

Cuci tangan menggunakan sabun, terutama setelah menggunakan toilet dan sebelum menyiapkan atau mengonsumsi makanan. Kebersihan tangan sangat penting untuk mencegah penyebaran infeksi kepada anggota keluarga lainnya.

 

Kapan Harus Ke Dokter?

Segera cari pertolongan medis jika muntaber disertai tanda-tanda yang mengkhawatirkan, seperti:

  • Tanda dehidrasi
  • Muntah terus-menerus sehingga tidak dapat mempertahankan cairan
  • Diare berdarah
  • Nyeri perut yang berat
  • Demam tinggi atau kondisi yang semakin memburuk
  • Penurunan kesadaran atau sangat mengantuk
  • Diare yang tidak kunjung membaik
  • Gejala terjadi pada bayi, lansia, atau orang dengan kondisi medis yang meningkatkan risiko komplikasi

Pada anak kecil, tanda dehidrasi dapat berkembang lebih cepat sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus.


Apakah Muntaber Bisa Menular

Ya, gastroenteritis akibat infeksi busa menular. Penularan dapat terjadi melalui tangan, makanan, air, permukaan benda yang terkontaminasi, atau kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.

Untuk mengurangi risiko penularan:

  • Cuci tangan dengan sabun secara rutin
  • Jangan menyiapkan makanan untuk orang lain ketika sedang sakit
  • Bersihkan permukaan yang mungkin terkontaminasi
  • Gunakan air yang aman untuk minum dan memasak
  • Masak makanan hingga matang
  • Simpan makanan pada suhu yang aman
  • Hindari berbagi peralatan makan dengan orang yang sedang mengalami gastroenteritis


Cara Mencegah Muntaber

Pencegahan gastroenteritis terutama berkaitan dengan kebersihan dan keamanan makanan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

  • Cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah menggunakan toilet
  • Masak makanan hingga matang, terutama daging, telur, dan makanan laut
  • Gunakan air yang aman untuk minum
  • Cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi
  • Pisahkan bahan makanan mentah dan makanan matang
  • Simpan makanan dengan cara yang tepat
  • Bersihkan peralatan memasak dan permukaan dapur secara rutin
  • Hindari mengonsumsi makanan yang sudah basi atau tampak terkontaminasi

 

Perbedaan Muntaber dengan Diare

Muntaber dan diare sering dianggap sama, padahal keduanya tidak sepenuhnya identik.

Diare adalah kondisi ketika seseorang buang air besar lebih sering dengan konsistensi feses yang lebih cair dari biasanya. Sementara itu, muntaber atau gastroenteritis merupakan peradangan pada saluran pencernaan yang dapat menyebabkan kombinasi gejala seperti diare, muntah, mual, sakit perut, dan terkadang demam.

Dengan kata lain, diare dapat menjadi salah satu gejala gastroenteritis, tetapi tidak semua diare berarti seseorang mengalami gastroenteritis.

 

Kesimpulan

Muntaber atau gastroenteritis merupakan peradangan pada saluran pencernaan yang dapat menyebabkan muntah, diare, mual, sakit perut, dan demam. Infeksi virus merupakan salah satu penyebab yang umum, tetapi bakteri, parasit, makanan terkontaminasi, dan penyebab lainnya juga dapat memicu kondisi ini.

Hal terpenting saat mengalami muntaber adalah mencegah dehidrasi dengan mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Jika muncul tanda dehidrasi, darah dalam tinja, muntah terus-menerus, nyeri berat, atau kondisi semakin memburuk, segera periksakan diri ke Dokter.

 

FAQ Muntaber

Beberapa pertanyaan umum seputar muntaber adalah:

Apa itu muntaber?
Muntaber adalah istilah umum untuk gastroenteritis, yaitu peradangan pada lambung dan usus yang dapat menyebabkan muntah, diare, mual, sakit perut, dan demam.

Apa penyebab muntaber yang paling umum?
Muntaber dapat disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, makanan atau minuman yang terkontaminasi, serta beberapa penyebab noninfeksi.

Apakah muntaber bisa menular?
Ya. Gastroenteritis akibat infeksi dapat menular melalui tangan, makanan, air, permukaan yang terkontaminasi, atau kontak dengan orang yang terinfeksi.

Apa yang harus diminum saat muntaber?
Cairan perlu dikonsumsi secara teratur untuk mengganti cairan yang hilang. Larutan oralit dapat membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare.

Berapa lama muntaber biasanya berlangsung?
Durasi muntaber berbeda-beda tergantung penyebabnya. Banyak kasus gastroenteritis infeksius ringan membaik dalam beberapa hari, tetapi gejala yang menetap atau semakin berat perlu diperiksakan.

Kapan muntaber berbahaya?
Muntaber dapat menjadi serius jika menyebabkan dehidrasi atau disertai gejala seperti darah dalam tinja, muntah terus-menerus, nyeri perut berat, penurunan kesadaran, atau kondisi yang semakin memburuk.

Published : 19/12/2023
Written By : The Healthy Belly

You Might Like

More Post >
CACAR MONYET: PENYEBAB, GEJALA DAN LANGKAH PENCEGAHAN YANG DAPAT DIAMBIL
Continue Reading
Angin Duduk (Angina Pectoris): Gejala, Penyebab, Serta Cara Mengelola dan Mencegahnya
Continue Reading
MEET the AUTHOR
The Healthy Belly

Discussion

Top Picks

ASI vs Susu Formula: Mana Yang Lebih Baik untuk Bayi?
Continue Reading
Penyakit Kuning Pada Bayi: Penyebab, Gejala, Pengobatan Yang Tersedia, dan Cara Mencegahnya
Continue Reading
Plasenta Previa: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Continue Reading
Baby Blues Syndrome: Pahami Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Continue Reading