Benign Prostatic Hyperplasia (BPH): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Image by peakSTOCKS

Apa Itu Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)?

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) adalah kondisi ketika kelenjar prostat mengalami pembesaran yang bersifat jinak atau bukan kanker. Prostat merupakan kelenjar kecil pada sistem reproduksi pria yang terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi sebagian uretra, yaitu saluran yang membawa urine keluar dari tubuh.

Seiring bertambahnya usia, prostat dapat mengalami pembesaran dan menekan uretra. Akibatnya, aliran urine menjadi lebih sulit dan proses buang air kecil dapat terganggu.

BPH lebih sering ditemukan pada pria berusia di atas 50 tahun. Meski tidak termasuk kanker prostat dan tidak secara langsung berarti seseorang akan mengalami kanker, pembesaran prostat jinak dapat memengaruhi kualitas hidup jika tidak ditangani dengan tepat.

Tingkat pembesaran prostat juga tidak selalu sejalan dengan tingkat keparahan gejala. Prostat yang sedikit membesar dapat menimbulkan keluhan berarti, sedangkan pembesaran yang lebih besar belum tentu menyebabkan gejala berat.

 

Penyebab Benign Prostatic Hyperplasia

Penyebab pasti BPH belum sepenuhnya dipahami. Namun, perubahan hormon dan proses penuaan diduga berperan penting dalam perkembangan kondisi ini.

Beberapa faktor yang berkaitan dengan pembesaran prostat jinak meliputi:

 

1. Pertambahan usia

Risiko BPH meningkat seiring bertambahnya usia. Perubahan jaringan prostat yang terjadi selama proses penuaan dapat memicu pertumbuhan sel di dalam kelenjar tersebut.

 

2. Perubahan hormon

Hormon, termasuk testosteron dan dihidrotestosteron (DHT), berperan dalam pertumbuhan serta pemeliharaan jaringan prostat. Perubahan keseimbangan hormon seiring bertambahnya usia dapat berkontribusi terhadap perkembangan BPH.

 

3. Riwayat keluarga

Pria yang memiliki ayah atau saudara laki-laki dengan pembesaran prostat berpotensi memiliki risiko lebih tinggi, terutama jika anggota keluarga mengalami kondisi tersebut pada usia relatif muda.

 

4. Kondisi kesehatan dan gaya hidup

Obesitas, kurang aktivitas fisik, diabetes, dan gangguan metabolik dikaitkan dengan peningkatan risiko atau gejala BPH dalam sejumlah penelitian. Namun, faktor-faktor ini tidak selalu menjadi penyebab langsung pada setiap individu.

 

Gejala Benign Prostatic Hyperplasia Yang Perlu Dikenali

Gejala BPH terutama berkaitan dengan gangguan penyimpanan urine dan pengosongan kandung kemih. Keluhan dapat berkembang secara perlahan dan berbeda pada setiap pria.

Berikut beberapa gejala pembesaran prostat jinak yang umum terjadi:

  • Sering buang air kecil, terutama pada malam hari
  • Sulit memulai aliran urine
  • Aliran urine melemah atau terputus-putus
  • Perlu mengejan saat buang air kecil
  • Merasa kandung kemih belum kosong sepenuhnya
  • Mengalami dorongan buang air kecil yang sulit ditahan
  • Urine masih menetes setelah selesai buang air kecil

Gejala tersebut tidak selalu disebabkan oleh BPH. Infeksi saluran kemih, gangguan kandung kemih, efek obat, dan kondisi prostat lainnya juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Oleh karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

 

Faktor Risiko Pembesaran Prostat Jinak

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami BPH adalah:

  • Usia: risiko meningkat terutama setelah usia 50 tahun
  • Riwayat keluarga: memiliki anggota keluarga dekat dengan BPH
  • Obesitas: berat badan berlebih berkaitan dengan risiko gangguan metabolik yang dapat memengaruhi kesehatan prostat
  • Diabetes dan penyakit jantung: beberapa kondisi metabolik dan kardiovaskular berkaitan dengan BPH
  • Kurang aktivitas fisik: gaya hidup sedentari dapat berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi

Meskipun demikian, pria dengan faktor risiko tersebut belum tentu mengalami BPH. Sebaliknya, kondisi ini juga dapat terjadi pada pria tanpa faktor risiko yang jelas selain pertambahan usia.

Baca juga: Obesitas: Ketahui Penyebabnya, Dampaknya Bagi Kesehatan, dan Cara Mengatasinya

 

Bagaimana Benign Prostatic Hyperplasia Didiagnosis?

Dokter akan mengevaluasi gejala, riwayat kesehatan, dan kemungkinan penyebab lain dari gangguan buang air kecil.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi:

 

1. Anamnesis

Dokter menanyakan frekuensi buang air kecil, keluhan pada malam hari, kekuatan aliran urine, obat yang digunakan, dan dampak gejala terhadap aktivitas sehari-hari.

 

2. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan colok dubur atau digital rectal examination dapat dilakukan untuk menilai ukuran, bentuk, dan karakteristik prostat.

 

3. Tes urine

Analisis urine membantu mendeteksi infeksi, darah, atau kelainan lain yang mungkin menjelaskan gejala.

 

4. Pemeriksaan darah dan PSA

Tes darah dapat digunakan untuk menilai fungsi ginjal jika diperlukan. Pemeriksaan prostate-specific antigen (PSA) dapat dipertimbangkan berdasarkan usia, gejala, risiko kanker prostat, dan hasil diskusi dengan dokter. PSA bukan tes khusus untuk BPH. Kadarnya dapat meningkat karena pembesaran prostat, peradangan, infeksi, maupun kanker prostat.

 

5. Pemeriksaan tambahan

Dokter dapat menyarankan pengukuran aliran urine, pemeriksaan sisa urine setelah buang air kecil, atau ultrasonografi apabila dibutuhkan untuk menentukan diagnosis dan rencana pengobatan.

 

Pengobatan Benign Prostatic Hyperplasia

Pengobatan BPH ditentukan berdasarkan tingkat keparahan gejala, ukuran prostat, kondisi kesehatan, serta preferensi pasien. Tidak semua pria dengan BPH memerlukan obat atau operasi.

 

1. Pemantauan aktif

Untuk gejala ringan yang tidak terlalu mengganggu, dokter dapat menyarankan pemantauan berkala tanpa langsung memberikan obat.

Langkah yang dapat membantu adalah:

  • Mengurangi konsumsi minuman menjelang tidur jika sering terbangun untuk buang air kecil
  • Membatasi kafein dan alkohol apabila memperburuk gejala
  • Tidak menahan urine terlalu lama
  • Membicarakan obat yang mungkin memperburuk keluhan dengan dokter
  • Menjaga berat badan sehat dan melakukan aktivitas fisik secara teratur

Perubahan kebiasaan dapat membantu mengurangi keluhan, tetapi tidak selalu mengecilkan prostat.

Baca juga: Dampak Buruk Alkohol Bagi Kesehatan Tubuh

 

2. Pengobatan dengan obat

Dokter dapat meresepkan obat sesuai kebutuhan pasien, antara lain:

  • Alpha-blocker: Seperti tamsulosin, membantu melemaskan otot di prostat dan leher kandung kemih agar urine lebih mudah keluar
  • 5-alpha-reductase inhibitor: Seperti finasteride atau dutasteride, dapat mengecilkan prostat pada pasien yang sesuai. Efeknya membutuhkan waktu beberapa bulan
  • Terapi kombinasi: Penggunaan kedua kelompok obat tersebut dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu dengan gejala dan risiko perkembangan penyakit yang lebih tinggi

Setiap obat memiliki potensi efek samping. Alpha-blocker dapat menyebabkan pusing atau penurunan tekanan darah, sedangkan obat penghambat 5-alpha-reductase dapat memengaruhi fungsi seksual. Pemilihan obat harus dilakukan bersama dokter.

 

3. Tindakan minimal invasif dan operasi

Jika gejala berat, obat tidak memberikan hasil memadai, atau muncul komplikasi, dokter akan merekomendasikan prosedur untuk mengurangi hambatan aliran urine.

Beberapa pilihan tindakan adalah:

  • Transurethral Resection of the Prostate (TURP): Mengangkat jaringan prostat yang menghambat aliran urine melalui uretra
  • Laser enukleasi atau penguapan prostat: Menggunakan energi laser untuk mengangkat atau mengurangi jaringan prostat
  • Prosedur minimal invasif lainnya: Misalnya implan uretra prostat atau terapi berbasis uap air pada pasien yang memenuhi kriteria tertentu

Setiap prosedur memiliki manfaat, risiko, dan kemungkinan efek samping yang berbeda. Dokter akan membantu menentukan pilihan yang paling sesuai.

 

Komplikasi Benign Prostatic Hyperplasia

BPH yang menimbulkan hambatan aliran urine dapat menyebabkan komplikasi, terutama jika kondisinya berat atau tidak tertangani.

Komplikasi yang mungkin terjadi adalah:

  • Retensi urine: Ketidakmampuan mengeluarkan urine dari kandung kemih
  • Infeksi saluran kemih: Pengosongan kandung kemih yang tidak optimal dapat meningkatkan risiko infeksi
  • Batu kandung kemih: Dapat terbentuk ketika urine tertahan dan mineral mengendap
  • Darah dalam urine: Dapat terjadi pada sebagian pasien dan harus diperiksa untuk mengetahui penyebabnya
  • Gangguan fungsi ginjal: Pada kasus tertentu, hambatan saluran kemih yang berat dapat memengaruhi fungsi ginjal

BPH tidak selalu berkembang menjadi komplikasi. Pemeriksaan dan penanganan yang tepat membantu mengurangi risiko tersebut.

Baca juga: Batu Kandung Kemih: Penyebab, Gejala, Pengobatan dan Pencegahan

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan dengan dokter jika mengalami:

  • Perubahan pola buang air kecil
  • Aliran urine melemah
  • Sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil

Segera cari pertolongan medis jika tidak dapat buang air kecil sama sekali, terutama jika disertai nyeri atau perut bagian bawah terasa penuh. Kondisi ini dapat menandakan retensi urine akut.

Demam atau menggigil yang disertai nyeri saat buang air kecil, serta urine berdarah, juga memerlukan evaluasi medis segera.

 

Cara Menjaga Kesehatan Prostat

Tidak ada cara yang terbukti dapat sepenuhnya mencegah BPH.

Namun, beberapa kebiasaan dapat membantu menjaga kesehatan secara umum dan mengelola gejala adalah:

  • Menjaga berat badan dalam rentang sehat
  • Melakukan aktivitas fisik secara rutin
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
  • Membatasi kafein dan alkohol jika memperburuk keluhan
  • Mengatur waktu minum agar tidak terlalu banyak menjelang tidur tanpa menyebabkan dehidrasi
  • Melakukan pemeriksaan medis jika muncul perubahan pola buang air kecil

Hindari mengonsumsi suplemen atau obat herbal yang diklaim dapat mengecilkan prostat tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Bukti manfaat produk tersebut beragam, dan beberapa dapat berinteraksi dengan obat lain.

 

Kesimpulan

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) adalah pembesaran prostat jinak yang umum terjadi pada pria seiring bertambahnya usia. Gejalanya dapat berupa sering buang air kecil, aliran urine melemah, sulit memulai buang air kecil, dan perasaan kandung kemih belum kosong.

Pilihan penanganan meliputi pemantauan aktif, perubahan kebiasaan, obat-obatan, hingga prosedur minimal invasif atau operasi. Diagnosis dan pengobatan yang tepat membantu mengendalikan gejala serta mengurangi risiko komplikasi. Jika mengalami gangguan buang air kecil, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi yang sesuai.

 

FAQ Benign Prostatic Hyperplasia

Beberapa pertanyaan umum seputar benign prostatic hyperplasia adalah:

Apa itu benign prostatic hyperplasia?

Benign prostatic hyperplasia adalah pembesaran kelenjar prostat yang bersifat jinak atau bukan kanker. Kondisi ini dapat menekan uretra dan menyebabkan gangguan buang air kecil.

Apakah BPH sama dengan kanker prostat?

Tidak. BPH merupakan pembesaran prostat jinak, sedangkan kanker prostat terjadi akibat pertumbuhan sel ganas. Keduanya dapat menimbulkan gejala yang serupa sehingga pemeriksaan medis diperlukan untuk membedakannya.

Apa gejala awal pembesaran prostat jinak?

Gejala awal yang umum meliputi sering buang air kecil, terutama pada malam hari, aliran urine melemah, sulit memulai buang air kecil, dan merasa kandung kemih belum kosong sepenuhnya.

Apakah benign prostatic hyperplasia bisa sembuh?

Gejala BPH dapat dikendalikan melalui perubahan kebiasaan, obat-obatan, atau prosedur medis. Beberapa tindakan dapat menghilangkan atau mengurangi jaringan yang menghambat aliran urine, tetapi hasil dan kemungkinan kekambuhan bergantung pada prosedur serta kondisi pasien.

Apakah BPH harus dioperasi?

Tidak. BPH dengan gejala ringan dapat dipantau secara berkala. Operasi atau prosedur lain dipertimbangkan jika gejala mengganggu, pengobatan tidak memadai, atau muncul komplikasi.

Apakah BPH dapat menyebabkan gangguan ginjal?

Ya, pada kasus tertentu. Hambatan aliran urine yang berat dan berkepanjangan dapat menyebabkan tekanan pada saluran kemih dan mengganggu fungsi ginjal.

Kapan pria perlu memeriksakan prostat?

Pria sebaiknya berkonsultasi jika mengalami perubahan pola buang air kecil, aliran urine melemah, atau sering terbangun malam hari untuk buang air kecil. Ketidakmampuan buang air kecil sama sekali merupakan kondisi darurat.

Published : 29/11/2023
Written By : The Healthy Belly

You Might Like

More Post >
Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi): Penyebab, Gejala, dan Mengapa Sangat Penting Untuk Mengelolanya
Continue Reading
Insomnia: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Continue Reading
MEET the AUTHOR
The Healthy Belly

Discussion

Top Picks

Jambu Air: Kandungan Gizi dan Manfaat Kesehatannya
Continue Reading
Plasenta Akreta: Penyebab, Gejala, dan Penanganan
Continue Reading
Ruam Popok Pada Bayi: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dan Pencegahannya
Continue Reading
Virus Respiratory Syncytial (RSV): Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya
Continue Reading