BAB Berdarah: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Image by Pornpak Khunatorn
BAB berdarah adalah kondisi ketika darah keluar bersama tinja atau terlihat saat buang air besar (BAB). Kondisi ini dapat ditandai dengan darah merah segar pada tisu toilet, darah yang menetes ke dalam kloset, tinja berwarna merah gelap, atau tinja berwarna hitam seperti aspal. BAB berdarah bisa disebabkan oleh masalah ringan, seperti wasir dan fisura ani, tetapi juga dapat menjadi tanda penyakit yang lebih serius pada saluran pencernaan.
Meskipun tidak selalu berbahaya, BAB berdarah tidak boleh diabaikan, terutama jika terjadi berulang, disertai nyeri perut, perubahan kebiasaan BAB, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau tubuh terasa lemas. Mengetahui penyebab BAB berdarah dapat membantu menentukan penanganan yang tepat.
Apa Itu BAB Berdarah?
BAB berdarah adalah kondisi ketika terdapat darah pada tinja, di permukaan tinja, di tisu setelah membersihkan anus, atau di dalam air toilet setelah buang air besar. Dalam dunia medis, perdarahan ini dapat berasal dari anus, rektum, usus besar, atau bagian lain dari saluran pencernaan.
Warna darah dapat memberikan petunjuk mengenai sumber perdarahan, meskipun tidak dapat memastikan diagnosis secara mandiri.
- Darah merah segar: Sering berasal dari anus, rektum, atau bagian bawah usus besar, misalnya akibat wasir atau fisura ani
- Darah merah gelap atau merah marun: Dapat menandakan perdarahan dari usus besar atau bagian saluran pencernaan yang lebih tinggi
- Tinja hitam seperti aspal: Dapat menjadi tanda perdarahan dari lambung atau usus bagian atas, misalnya akibat tukak lambung
Perlu diketahui bahwa makanan tertentu dan obat-obatan juga dapat mengubah warna tinja. Namun, tinja hitam seperti aspal atau perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya perlu diperiksa oleh tenaga medis.
Penyebab BAB Berdarah
Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan BAB berdarah. Tingkat keparahannya bergantung pada penyebab, jumlah darah yang keluar, serta gejala lain yang menyertai.
1. Wasir atau ambeien
Wasir adalah pembengkakan pembuluh darah di sekitar anus atau rektum bagian bawah. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab umum BAB berdarah.
Wasir dapat menyebabkan darah merah segar yang terlihat pada tisu toilet, permukaan tinja, atau menetes ke dalam kloset. Gejala lain yang mungkin muncul meliputi benjolan di sekitar anus, rasa gatal, iritasi, dan nyeri, terutama jika wasir mengalami komplikasi.
Wasir dapat dipicu oleh sembelit, mengejan terlalu keras saat BAB, duduk terlalu lama di toilet, kehamilan, dan kurangnya asupan serat.
Baca juga: Wasir (Ambeien): Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
2. Fisura ani
Fisura ani adalah luka atau robekan kecil pada lapisan anus. Kondisi ini sering terjadi akibat keluarnya tinja yang keras atau berukuran besar saat sembelit.
Gejala khas fisura ani adalah nyeri tajam saat BAB, rasa perih yang dapat bertahan setelah BAB, serta darah merah segar dalam jumlah sedikit. Nyeri tersebut terkadang membuat seseorang menahan BAB, sehingga tinja semakin keras dan luka sulit sembuh.
3. Sembelit
Sembelit atau konstipasi dapat menyebabkan tinja menjadi keras dan sulit dikeluarkan. Ketika seseorang mengejan terlalu kuat, jaringan di sekitar anus dapat terluka sehingga muncul perdarahan.
Sembelit juga dapat memperburuk wasir dan memicu fisura ani. Oleh karena itu, menjaga konsistensi tinja agar tetap lunak merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko BAB berdarah akibat kondisi tersebut.
Baca juga: Apa Itu Konstipasi (Sembelit): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
4. Infeksi saluran pencernaan
Infeksi bakteri atau organisme lain pada saluran pencernaan dapat menyebabkan diare berdarah. Kondisi ini biasanya disertai gejala lain, seperti sakit perut, kram, demam, mual, atau sering buang air besar.
Diare berdarah perlu mendapatkan pemeriksaan medis karena penyebabnya dapat memerlukan penanganan khusus. Jangan sembarangan mengonsumsi antibiotik atau obat antidiare tanpa saran tenaga medis, terutama jika disertai demam atau darah pada tinja.
5. Radang usus
Penyakit radang usus, seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn, dapat menyebabkan peradangan kronis pada saluran pencernaan.
Gejalanya dapat berupa BAB berdarah berulang, diare berkepanjangan, sakit perut, keinginan BAB yang mendesak, kelelahan, dan penurunan berat badan. Penanganan kondisi ini bergantung pada jenis penyakit dan tingkat keparahannya.
Baca juga: Crohn’s Disease: Mengenal Lebih Dalam Mengenai Gejala, Penyebab, dan Cara Mengelolanya
6. Polip usus dan kanker kolorektal
Polip adalah pertumbuhan jaringan pada lapisan usus besar atau rektum. Sebagian polip dapat berdarah dan beberapa jenis berpotensi berkembang menjadi kanker jika tidak ditangani.
Kanker kolorektal juga dapat menyebabkan darah pada tinja, perubahan pola BAB, tinja yang lebih kecil dari biasanya, sakit perut, anemia, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Gejala tersebut tidak selalu berarti kanker. Namun, BAB berdarah yang berulang atau disertai perubahan kebiasaan BAB perlu dievaluasi oleh dokter, terutama pada orang dengan faktor risiko kanker kolorektal.
Baca juga: Polip Usus: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
7. Tukak lambung dan perdarahan saluran pencernaan atas
Luka pada lapisan lambung atau usus dua belas jari dapat menyebabkan perdarahan. Darah yang telah tercerna dapat membuat tinja berwarna hitam pekat dan menyerupai aspal.
Kondisi ini dapat disertai nyeri ulu hati, pusing, lemas, muntah darah, atau muntah yang menyerupai bubuk kopi. Perdarahan saluran pencernaan atas dapat menjadi kondisi darurat, terutama jika perdarahannya banyak.
8. Divertikulosis dan penyebab lain
Divertikulosis adalah kondisi terbentuknya kantong-kantong kecil pada dinding usus besar. Kantong tersebut terkadang dapat berdarah secara tiba-tiba, bahkan tanpa nyeri.
Penyebab lain BAB berdarah meliputi kelainan pembuluh darah pada saluran pencernaan dan efek obat tertentu, termasuk obat yang meningkatkan risiko perdarahan. Karena penyebabnya beragam, pemeriksaan diperlukan untuk menentukan sumber darah secara tepat.
Gejala BAB Berdarah Yang Perlu Diperhatikan
Gejala BAB berdarah dapat berbeda pada setiap orang, tergantung pada penyebabnya. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi:
- Darah merah segar pada tisu toilet atau permukaan tinja
- Darah menetes atau bercampur dengan tinja
- Tinja berwarna merah gelap atau hitam seperti aspal
- Nyeri atau rasa perih saat BAB
- Gatal, benjolan, atau pembengkakan di sekitar anus
- Diare yang disertai darah atau lendir
- Sakit perut, kram, atau perubahan kebiasaan BAB
- Tubuh mudah lelah, pucat, pusing, atau lemas
Catat kapan perdarahan terjadi, warna darah, perkiraan jumlahnya, serta gejala lain yang menyertai. Informasi ini dapat membantu dokter melakukan evaluasi.
Kapan Harus ke Dokter?
Tidak semua BAB berdarah merupakan keadaan darurat, tetapi ada beberapa tanda yang memerlukan pertolongan segera.
Segera ke IGD jika:
- Darah keluar dalam jumlah banyak atau perdarahan terus berlangsung
- BAB berdarah disertai pusing berat, hampir pingsan, pingsan, keringat dingin, atau kelemahan yang berat
- Tinja berwarna hitam seperti aspal, terutama jika disertai lemas atau pusing
- Terjadi muntah darah atau muntah menyerupai bubuk kopi
- Perdarahan disertai nyeri perut hebat
Jika darah yang keluar hanya sedikit tetapi terjadi berulang, penyebabnya tidak jelas, atau disertai perubahan pola BAB, segera buat janji pemeriksaan dengan dokter. Jangan menganggap perdarahan pasti disebabkan oleh wasir tanpa pemeriksaan.
Cara Mengatasi BAB Berdarah
Cara mengatasi BAB berdarah harus disesuaikan dengan penyebabnya. Tidak ada satu pengobatan yang cocok untuk semua kasus. Langkah berikut dapat membantu, terutama jika perdarahan berkaitan dengan sembelit atau wasir ringan.
1. Perbanyak konsumsi makanan berserat
Serat membantu melunakkan tinja dan membuat BAB lebih teratur. Pilih makanan seperti sayuran hijau, pepaya, pir, apel, oatmeal, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.
Tingkatkan asupan serat secara bertahap agar tidak menimbulkan kembung. Jika BAB berdarah disertai sakit perut hebat atau gejala serius lainnya, jangan hanya mengandalkan perubahan pola makan.
Baca juga: Serat: Pentingnya Bagi Kesehatan Tubuh dan Kebutuhan Hariannya
2. Cukup minum air putih
Asupan cairan yang cukup membantu serat bekerja dengan baik dalam melunakkan tinja. Kebutuhan cairan setiap orang berbeda-beda, tergantung usia, aktivitas, cuaca, dan kondisi kesehatan. Orang yang memiliki pembatasan cairan akibat penyakit tertentu sebaiknya mengikuti anjuran dokter.
3. Hindari mengejan terlalu keras
Mengejan berlebihan dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di sekitar anus dan memperburuk wasir atau fisura ani. Usahakan untuk tidak menunda keinginan BAB, hindari duduk terlalu lama di toilet, dan jangan memaksakan BAB ketika tinja belum siap dikeluarkan.
4. Berendam dengan air hangat
Jika BAB berdarah disebabkan oleh wasir atau fisura ani, berendam di air hangat biasa selama sekitar 10–15 menit dapat membantu meredakan rasa tidak nyaman. Gunakan air hangat, bukan air panas, dan jaga kebersihan area anus. Cara ini membantu meredakan gejala, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan jika perdarahan berulang atau penyebabnya belum diketahui.
5. Gunakan obat sesuai anjuran Dokter
Dokter dapat merekomendasikan obat pelunak tinja, terapi untuk wasir, atau pengobatan lain sesuai diagnosis. Infeksi dan penyakit radang usus mungkin membutuhkan terapi khusus, sedangkan perdarahan akibat polip atau kondisi lain dapat memerlukan prosedur medis.
Hindari menggunakan obat sembarangan. Beberapa obat antinyeri, seperti aspirin dan ibuprofen, dapat meningkatkan risiko perdarahan saluran pencernaan. Namun, jangan menghentikan aspirin atau obat pengencer darah yang diresepkan tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Cara Mencegah BAB Berdarah
Tidak semua penyebab BAB berdarah dapat dicegah. Namun, kebiasaan berikut dapat membantu mengurangi risiko perdarahan yang berkaitan dengan sembelit dan wasir.
- Konsumsi makanan tinggi serat: Sertakan sayur, buah, dan biji-bijian utuh dalam menu sehari-hari
- Penuhi kebutuhan cairan: Minum secara teratur sesuai kebutuhan tubuh dan anjuran medis
- Bergerak secara rutin: Aktivitas fisik membantu menjaga keteraturan buang air besar
- Jangan menahan BAB: Segera ke toilet ketika muncul dorongan untuk buang air besar
- Hindari mengejan berlebihan: Beri waktu yang cukup dan jangan terlalu lama duduk di toilet
- Jaga kebersihan anus: Bersihkan dengan lembut untuk mengurangi iritasi
- Lakukan skrining sesuai anjuran: Orang dengan usia atau faktor risiko tertentu mungkin memerlukan pemeriksaan kanker kolorektal sesuai rekomendasi dokter
Jika Anda memiliki riwayat BAB berdarah berulang, jangan menunda pemeriksaan meskipun pola makan dan kebiasaan BAB sudah diperbaiki.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Penyebab BAB Berdarah?
Untuk menentukan penyebab BAB berdarah, dokter akan menanyakan gejala, durasi perdarahan, warna darah, kebiasaan BAB, riwayat penyakit, serta obat yang sedang dikonsumsi.
Pemeriksaan yang mungkin dilakukan meliputi:
- Pemeriksaan fisik dan anus: Untuk mencari tanda wasir, fisura ani, atau sumber perdarahan di sekitar anus
- Tes darah: Untuk mengetahui apakah terjadi anemia atau tanda infeksi tertentu
- Pemeriksaan tinja: Jika dicurigai adanya infeksi atau kondisi tertentu pada saluran pencernaan
- Anoskopi atau pemeriksaan rektum: Untuk melihat bagian anus dan rektum sesuai kebutuhan
- Kolonoskopi atau endoskopi: Untuk memeriksa bagian dalam saluran pencernaan apabila terdapat indikasi medis
Tidak semua pasien membutuhkan seluruh pemeriksaan tersebut. Dokter akan menentukan pemeriksaan berdasarkan gejala, temuan fisik, usia, faktor risiko, dan dugaan penyebab perdarahan.
BAB Berdarah Tidak Selalu Berarti Wasir
Wasir memang merupakan salah satu penyebab umum darah merah segar saat BAB. Namun, warna darah saja tidak cukup untuk memastikan penyebabnya.
Perdarahan yang tampak ringan pun terkadang berasal dari polip, peradangan usus, atau penyakit lain yang memerlukan penanganan. Karena itu, pemeriksaan medis penting jika BAB berdarah baru pertama kali terjadi tanpa sebab yang jelas, berulang, atau disertai gejala lain.
Jangan menunda konsultasi hanya karena darah berhenti keluar. Beberapa kondisi dapat menyebabkan perdarahan yang muncul dan menghilang secara berkala.
Kesimpulan
BAB berdarah adalah gejala yang dapat disebabkan oleh wasir, fisura ani, sembelit, infeksi, radang usus, polip, hingga kanker kolorektal. Warna darah, jumlah perdarahan, dan gejala yang menyertai dapat membantu memberikan petunjuk, tetapi tidak cukup untuk memastikan diagnosis.
Untuk mengurangi risiko BAB berdarah akibat sembelit atau wasir, terapkan pola makan tinggi serat, minum cukup air, aktif bergerak, dan hindari mengejan terlalu keras. Jika perdarahan berulang, penyebabnya tidak jelas, atau disertai perubahan kebiasaan BAB, segera konsultasikan dengan dokter. Apabila darah keluar banyak atau disertai pingsan dan nyeri perut hebat, cari pertolongan medis darurat.
FAQ BAB Berdarah
Beberapa pertanyaan umum seputar BAB berdarah adalah:
Apakah BAB berdarah berbahaya?
BAB berdarah bisa disebabkan oleh kondisi ringan seperti wasir, tetapi juga dapat menandakan penyakit serius. Tingkat bahayanya bergantung pada penyebab, jumlah darah, dan gejala yang menyertai. Perdarahan banyak, pingsan, atau nyeri perut hebat memerlukan pertolongan segera.
Apakah BAB berdarah bisa sembuh sendiri?
Perdarahan ringan akibat fisura ani atau wasir tertentu dapat membaik ketika tinja menjadi lebih lunak dan kebiasaan BAB diperbaiki. Namun, perdarahan yang berulang atau tidak diketahui penyebabnya tetap perlu diperiksa agar penyakit yang mendasarinya tidak terlewat.
Mengapa BAB berdarah tetapi tidak terasa sakit?
Wasir internal, divertikulosis, polip, dan beberapa kondisi lain dapat menyebabkan perdarahan tanpa rasa sakit. Tidak adanya nyeri bukan berarti penyebabnya pasti ringan. Pemeriksaan tetap diperlukan jika perdarahan terjadi berulang atau tanpa penjelasan yang jelas.
Apakah sembelit bisa menyebabkan BAB berdarah?
Ya. Tinja yang keras dan mengejan terlalu kuat dapat menyebabkan fisura ani atau memperburuk wasir. Meningkatkan asupan serat, memenuhi kebutuhan cairan, dan menghindari mengejan dapat membantu, tetapi perdarahan berulang harus dievaluasi oleh dokter.
Apa perbedaan darah akibat wasir dan kanker usus?
Darah akibat wasir sering berwarna merah segar dan muncul pada tisu atau permukaan tinja. Kanker usus dapat menyebabkan darah yang terlihat maupun tidak terlihat, disertai perubahan pola BAB, anemia, atau penurunan berat badan. Namun, gejala kedua kondisi dapat tumpang tindih sehingga tidak dapat dibedakan secara pasti hanya dari warna darah.
Apakah BAB berdarah perlu kolonoskopi?
Tidak semua orang yang mengalami BAB berdarah membutuhkan kolonoskopi. Pemeriksaan ini dipertimbangkan berdasarkan usia, riwayat keluarga, gejala, hasil pemeriksaan fisik, serta dugaan penyakit. Dokter akan menentukan apakah kolonoskopi atau pemeriksaan lain diperlukan.
Makanan apa yang baik untuk membantu mencegah BAB berdarah akibat sembelit?
Makanan tinggi serat, seperti pepaya, pir, sayuran, oatmeal, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh, dapat membantu menjaga tinja tetap lunak. Namun, makanan tidak dapat mengobati semua penyebab perdarahan dan bukan pengganti pemeriksaan medis.