Cacar Air (Chicken Pox): Gejala, Pengobatannya, dan Cara Mencegahnya

Image by s-dmit
Cacar air adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus varicella-zoster. Penyakit ini ditandai dengan munculnya ruam berupa bintik merah yang berkembang menjadi lenting berisi cairan dan terasa gatal. Cacar air dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada anak-anak yang belum mendapatkan vaksinasi.
Meskipun umumnya bisa sembuh dengan perawatan yang tepat, cacar air berisiko menyebabkan komplikasi, terutama pada bayi, ibu hamil, orang dewasa, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Memahami penyebab cacar air, gejalanya, cara mengobati, dan langkah pencegahannya penting untuk membantu mempercepat pemulihan serta mencegah penularan kepada orang lain.
Apa Itu Cacar Air?
Cacar air, atau dikenal juga sebagai chickenpox, merupakan infeksi virus yang sangat mudah menular. Penyakit ini biasanya menimbulkan ruam yang dimulai sebagai bintik merah, kemudian berubah menjadi lenting berisi cairan sebelum mengering dan membentuk keropeng.
Ruam dapat muncul di wajah, kulit kepala, dada, punggung, perut, hingga bagian tubuh lainnya. Sebelum ruam muncul, penderita mungkin mengalami demam, kelelahan, sakit kepala, atau kehilangan nafsu makan.
Setelah seseorang sembuh, virus tidak sepenuhnya hilang dari tubuh. Virus dapat tetap berada dalam keadaan tidak aktif di jaringan saraf dan berpotensi aktif kembali di kemudian hari sebagai herpes zoster atau cacar ular.
Penyebab Cacar Air
Penyebab cacar air adalah infeksi virus varicella-zoster (VZV). Virus ini menyebar dengan mudah dari orang yang terinfeksi kepada orang yang belum memiliki kekebalan.
Bagaimana cacar air menular?
Penularan cacar air dapat terjadi melalui beberapa cara, yaitu:
- Melalui udara: Menghirup partikel infeksius yang dilepaskan saat penderita bernapas, berbicara, batuk, atau bersin
- Kontak langsung: Menyentuh cairan dari lenting cacar air
- Kontak dekat dengan penderita: Berada di lingkungan yang sama dengan orang yang sedang menularkan virus
Penderita cacar air umumnya dapat menularkan virus sejak satu hingga dua hari sebelum ruam muncul sampai seluruh lenting mengering dan membentuk keropeng.
Karena itu, penderita sebaiknya menghindari kontak dekat dengan orang lain selama masa penularan, terutama dengan kelompok yang berisiko mengalami komplikasi.
Gejala Cacar Air yang Perlu Dikenali
Gejala cacar air biasanya muncul sekitar 10-21 hari setelah seseorang terpapar virus. Tingkat keparahannya dapat berbeda pada setiap orang.
Gejala awal cacar air
Sebelum ruam muncul, beberapa gejala yang dapat dialami adalah:
- Demam
- Tubuh terasa lemas dan mudah lelah
- Sakit kepala
- Nafsu makan menurun
- Nyeri atau rasa tidak nyaman pada tubuh
Pada anak-anak, ruam terkadang menjadi tanda pertama yang terlihat tanpa didahului gejala awal yang jelas.
Ciri-ciri ruam cacar air
Ruam cacar air umumnya berkembang melalui beberapa tahap:
- Muncul bintik merah pada kulit
- Bintik berkembang menjadi lenting berisi cairan yang terasa gatal
- Lenting pecah atau mengering
- Terbentuk keropeng yang akhirnya terlepas seiring proses penyembuhan
Salah satu ciri khas cacar air adalah munculnya ruam dalam beberapa gelombang. Akibatnya, bintik merah, lenting berisi cairan, dan keropeng dapat terlihat bersamaan pada area tubuh yang berbeda.
Cara Mengobati Cacar Air
Sebagian besar kasus cacar air pada anak yang sehat dapat pulih dengan perawatan di rumah. Namun, penanganan harus disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, dan tingkat keparahan gejala.
1. Cukup istirahat
Istirahat membantu tubuh memulihkan diri selama melawan infeksi. Hindari aktivitas berat dan batasi kontak dengan orang lain sampai masa penularan berakhir.
Baca juga: Pentingnya Cukup Tidur Untuk Kesehatan Tubuh
2. Cukup minum air putih
Pastikan tubuh mendapatkan cairan yang cukup, terutama ketika penderita mengalami demam. Jika terdapat lenting di dalam mulut, pilih makanan lembut dan minuman yang tidak mengiritasi.
3. Meredakan rasa gatal
Untuk mengurangi rasa gatal, penderita dapat melakukan beberapa hal berikut:
- Mandi dengan air sejuk atau suam-suam kuku
- Menggunakan losion kalamin jika sesuai dengan anjuran tenaga kesehatan
- Memotong kuku agar kulit tidak terluka saat digaruk
- Mengenakan pakaian yang longgar dan nyaman
- Menghindari menggaruk atau memecahkan lenting
Menggaruk lenting dapat meningkatkan risiko infeksi bakteri dan meninggalkan bekas luka.
4. Menggunakan obat sesuai anjuran Dokter
Obat penurun demam, seperti parasetamol, dapat digunakan sesuai usia, berat badan, dan petunjuk pemakaian. Hindari memberikan aspirin kepada anak yang sedang mengalami cacar air karena berisiko menyebabkan sindrom Reye.
Ibuprofen sebaiknya dihindari kecuali dokter menyarankannya, karena penggunaannya saat cacar air dikaitkan dengan risiko infeksi kulit yang serius.
Dokter juga dapat meresepkan obat antivirus, seperti asiklovir, untuk pasien tertentu. Obat antivirus paling bermanfaat jika dimulai sejak dini, sehingga konsultasi segera diperlukan, terutama bagi orang dewasa, ibu hamil, dan pasien dengan daya tahan tubuh lemah.
Jangan menggunakan antibiotik tanpa resep dokter karena antibiotik tidak dapat membunuh virus penyebab cacar air.
Berapa Lama Cacar Air Sembuh?
Cacar air umumnya berlangsung sekitar 4-7 hari sejak ruam mulai muncul, meskipun pemulihan kulit secara keseluruhan dapat membutuhkan waktu lebih lama.
Lenting biasanya mengering dan membentuk keropeng dalam beberapa hari. Penderita sebaiknya tetap berada di rumah dan menghindari sekolah, tempat kerja, atau kontak dengan orang lain sampai seluruh lenting mengering dan membentuk keropeng.
Jika penderita mengalami demam tinggi yang menetap, ruam semakin merah atau nyeri, kesulitan bernapas, kebingungan, atau sulit minum, segera cari pertolongan medis.
Komplikasi Cacar Air Yang Perlu Diwaspadai
Walaupun seringkali ringan, cacar air dapat menyebabkan komplikasi seperti:
- Infeksi kulit akibat bakteri: Dapat terjadi ketika lenting digaruk atau kulit mengalami luka.
- Pneumonia: Infeksi paru-paru yang lebih berisiko terjadi pada orang dewasa dan ibu hamil
- Dehidrasi: Dapat terjadi ketika penderita sulit minum atau mengalami demam
- Komplikasi saraf: Dalam kasus yang jarang terjadi, virus dapat menyebabkan peradangan pada otak atau bagian sistem saraf lainnya
Bayi baru lahir, ibu hamil yang belum memiliki kekebalan, dan orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh memerlukan perhatian khusus karena risiko komplikasinya lebih tinggi.
Ibu hamil yang terpapar cacar air atau mengalami gejalanya sebaiknya segera menghubungi dokter untuk mendapatkan penilaian dan penanganan yang sesuai.
Baca juga: Pneumonia: Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya
Cara Mencegah Cacar Air
Pencegahan cacar air terutama dilakukan melalui vaksinasi dan mengurangi paparan terhadap virus.
1. Mendapatkan vaksin cacar air
Vaksin varisela membantu melindungi seseorang dari cacar air dan mengurangi risiko penyakit berat. Jadwal vaksinasi mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan dan program imunisasi yang berlaku. Vaksin varisela merupakan vaksin hidup yang umumnya tidak diberikan selama kehamilan. Ibu hamil sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai langkah pencegahan yang aman.
2. Hindari kontak dengan penderita
Hindari kontak dekat dengan orang yang sedang mengalami cacar air, terutama jika belum pernah terkena penyakit tersebut atau belum mendapatkan vaksinasi. Jika terjadi paparan, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui apakah diperlukan tindakan pencegahan setelah paparan.
3. Menjaga kebersihan dan etika batuk
Biasakan mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menjaga kebersihan lingkungan. Namun, kebersihan saja tidak cukup untuk mencegah cacar air karena virus dapat menyebar melalui udara dan kontak langsung.
Kesimpulan
Cacar air adalah penyakit menular akibat virus varicella-zoster yang ditandai dengan demam dan ruam gatal berupa lenting berisi cairan. Sebagian besar penderita dapat pulih dengan perawatan yang tepat, tetapi kelompok tertentu berisiko mengalami komplikasi.
Mengenali gejala sejak dini, menghindari kontak selama masa penularan, melakukan perawatan kulit dengan benar, dan mendapatkan vaksinasi sesuai rekomendasi merupakan langkah penting untuk mengendalikan cacar air.
Jika gejala berat muncul atau penderita termasuk kelompok berisiko tinggi, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
FAQ Cacar Air
Beberapa pertanyaan umum seputar cacar air adalah:
Apakah cacar air menular?
Ya. Cacar air sangat menular, terutama kepada orang yang belum memiliki kekebalan. Penularan dapat terjadi melalui udara dan kontak langsung dengan cairan lenting.
Apakah cacar air hanya menyerang anak-anak?
Tidak. Cacar air dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa. Orang dewasa yang terinfeksi dapat mengalami gejala lebih berat dan memiliki risiko komplikasi lebih tinggi.
Bolehkah mandi saat terkena cacar air?
Boleh. Mandi dengan air sejuk atau suam-suam kuku dapat membantu menjaga kebersihan kulit dan mengurangi rasa gatal. Hindari menggosok kulit terlalu keras dan keringkan tubuh dengan menepuk lembut menggunakan handuk bersih.
Apakah cacar air bisa terjadi lebih dari satu kali?
Sebagian besar orang yang pernah mengalami cacar air memiliki kekebalan jangka panjang. Namun, infeksi berulang tetap dapat terjadi meskipun jarang. Virus yang menetap di dalam tubuh juga dapat aktif kembali sebagai herpes zoster.
Kapan penderita cacar air boleh kembali beraktivitas?
Penderita umumnya dapat kembali beraktivitas ketika seluruh lenting telah mengering dan membentuk keropeng, serta kondisi tubuh memungkinkan. Ikuti petunjuk tenaga kesehatan jika terdapat kondisi khusus.