Plasenta Previa: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Plasenta Previa: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Image by SDI Productions

Apa Itu Plasenta Previa?

Plasenta previa adalah kondisi ketika plasenta, atau ari-ari, menempel di bagian bawah rahim sehingga sebagian atau seluruhnya menutupi pembukaan serviks, yaitu jalan lahir bayi. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan selama kehamilan, terutama pada trimester ketiga.

Normalnya, plasenta menempel di bagian atas atau samping rahim. Organ ini berfungsi menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu kepada janin serta membantu membuang zat sisa metabolisme janin.

Pada sebagian ibu hamil, plasenta yang berada di bagian bawah rahim dapat tampak menjauhi jalan lahir seiring pertumbuhan rahim. Namun, jika plasenta tetap menutupi atau terlalu dekat dengan pembukaan serviks menjelang persalinan, kondisi tersebut memerlukan pemantauan dan penanganan medis.

Plasenta previa perlu mendapat perhatian karena perdarahan yang ditimbulkannya dapat membahayakan ibu dan bayi.

Baca juga: Kehamilan Trimester 3: Perkembangan Janin dan Persiapan Persalinan

 

Jenis-Jenis Plasenta Previa

Plasenta previa dibedakan berdasarkan posisi plasenta terhadap pembukaan serviks.

 

1. Plasenta previa total

Plasenta menutupi seluruh pembukaan serviks sehingga bayi tidak dapat melewati jalan lahir dengan aman. Persalinan melalui operasi caesar umumnya diperlukan.

 

2. Plasenta previa parsial

Plasenta menutupi sebagian pembukaan serviks. Kondisi ini juga dapat menyebabkan perdarahan dan memengaruhi pilihan metode persalinan.

 

3. Plasenta previa marginal

Tepi plasenta mencapai batas pembukaan serviks tanpa menutupinya secara langsung. Penanganan ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan jarak plasenta dari jalan lahir.

Dalam praktik medis modern, Dokter juga menilai apakah plasenta menutupi serviks atau hanya berada dekat dengannya. Plasenta yang terletak rendah tidak selalu berarti menutupi jalan lahir sepenuhnya.

 

Gejala Plasenta Previa

Gejala plasenta previa yang paling khas adalah perdarahan dari vagina pada trimester kedua atau ketiga kehamilan.

Berikut adalah beberapa tanda yang perlu diperhatikan:

  • Perdarahan vagina tanpa rasa sakit: Darah biasanya berwarna merah terang dan dapat muncul secara tiba-tiba
  • Perdarahan berulang: Perdarahan dapat berhenti sendiri, kemudian muncul kembali
  • Perdarahan dalam jumlah banyak: Pada kondisi tertentu, perdarahan dapat menyebabkan kehilangan darah yang serius
  • Kontraksi rahim: Sebagian ibu hamil dapat mengalami kontraksi, meskipun perdarahan tanpa nyeri merupakan gambaran yang khas

Tidak semua ibu hamil dengan plasenta previa mengalami gejala. Kondisi ini juga dapat ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan ultrasonografi (USG).

Penting: Segera ke IGD atau fasilitas kesehatan jika mengalami perdarahan saat hamil, meskipun jumlahnya sedikit dan tidak disertai rasa sakit. Jangan menunggu hingga perdarahan bertambah banyak.

Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Kontraksi Palsu: Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Membedakannya

 

Apa Penyebab Plasenta Previa?

Penyebab pasti plasenta previa belum sepenuhnya diketahui. Kondisi ini terjadi ketika plasenta menempel di bagian bawah rahim, tetapi tidak selalu dapat dijelaskan oleh satu faktor tertentu.

Beberapa faktor diketahui meningkatkan risiko plasenta previa, antara lain:

  • Riwayat operasi caesar: Jaringan parut pada rahim dapat berkaitan dengan kelainan lokasi plasenta pada kehamilan berikutnya
  • Riwayat plasenta previa: Ibu yang pernah mengalami kondisi ini memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya kembali
  • Kehamilan sebelumnya yang berulang: Risiko cenderung meningkat pada ibu yang telah mengalami beberapa kali kehamilan
  • Usia ibu yang lebih tua: Kehamilan pada usia 35 tahun atau lebih berkaitan dengan peningkatan risiko
  • Kehamilan kembar: Kehamilan dengan lebih dari satu janin dapat meningkatkan risiko beberapa komplikasi plasenta
  • Riwayat tindakan pada rahim: Prosedur seperti kuretase atau operasi rahim tertentu dapat menjadi faktor risiko

Memiliki satu atau beberapa faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami plasenta previa.


 

Bagaimana Plasenta Previa Didiagnosis?

Diagnosis plasenta previa terutama dilakukan melalui pemeriksaan USG.

 

1. USG kehamilan

USG digunakan untuk mengetahui posisi plasenta dan hubungannya dengan pembukaan serviks. USG transvaginal, yang dilakukan dengan memasukkan alat USG ke dalam vagina, dapat memberikan gambaran posisi plasenta yang lebih akurat dan umumnya aman jika dilakukan oleh tenaga medis terlatih.

 

2. Pemantauan selama kehamilan

Jika plasenta terlihat berada di bagian bawah rahim pada pemeriksaan awal, Dokter dapat menyarankan USG ulang pada usia kehamilan berikutnya. Hal ini dilakukan karena posisi relatif plasenta dapat berubah seiring pertumbuhan rahim.

 

3. Pemeriksaan kondisi ibu dan janin

Jika terjadi perdarahan, tenaga medis akan menilai kondisi ibu, jumlah darah yang hilang, serta kondisi janin. Pemeriksaan darah dan pemantauan denyut jantung janin dapat diperlukan sesuai situasi. Pada ibu hamil yang dicurigai mengalami plasenta previa, pemeriksaan dalam menggunakan jari melalui vagina umumnya dihindari sebelum lokasi plasenta dipastikan karena dapat memicu perdarahan berat.

 

Cara Menangani Plasenta Previa

Penanganan plasenta previa bergantung pada usia kehamilan, posisi plasenta, jumlah perdarahan, serta kondisi ibu dan janin.

 

1. Pemantauan rutin

Jika ibu tidak mengalami perdarahan dan kondisi ibu serta janin stabil, Dokter dapat menyarankan pemantauan berkala melalui pemeriksaan kehamilan dan USG.

 

2. Pembatasan aktivitas sesuai anjuran Dokter

Dokter dapat menyarankan penyesuaian aktivitas, termasuk menghindari hubungan seksual atau aktivitas tertentu jika terdapat indikasi medis. Tidak semua ibu dengan plasenta previa membutuhkan pembatasan aktivitas yang sama, sehingga anjuran perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

 

3. Perawatan di rumah sakit

Jika terjadi perdarahan, ibu mungkin perlu dirawat untuk pemantauan, pemberian cairan atau transfusi darah jika diperlukan, serta penilaian kondisi janin. Pada usia kehamilan tertentu, Dokter juga dapat memberikan kortikosteroid untuk membantu pematangan paru-paru janin jika persalinan prematur diperkirakan terjadi.

 

4. Operasi caesar

Operasi caesar umumnya diperlukan jika plasenta masih menutupi pembukaan serviks menjelang persalinan. Waktu persalinan ditentukan berdasarkan kondisi ibu dan janin serta ada atau tidaknya perdarahan. Jika terjadi perdarahan berat atau kondisi ibu maupun janin memburuk, persalinan darurat mungkin diperlukan tanpa menunggu usia kehamilan yang direncanakan.

Baca juga: Melahirkan Secara Caesar: Ketahui Risiko Yang Bisa Terjadi

 

Apakah Plasenta Previa Berbahaya Bagi Ibu dan Bayi?

Plasenta previa dapat meningkatkan risiko komplikasi, terutama jika menyebabkan perdarahan berat atau persalinan prematur.

Risiko bagi ibu

  • Kehilangan darah dalam jumlah banyak
  • Anemia akibat perdarahan
  • Kebutuhan transfusi darah
  • Peningkatan risiko komplikasi saat persalinan
  • Risiko plasenta akreta, yaitu kondisi ketika plasenta melekat terlalu dalam pada dinding rahim, terutama pada ibu dengan riwayat operasi caesar

Risiko bagi bayi

  • Kelahiran prematur akibat persalinan yang harus dilakukan lebih awal
  • Berat badan lahir rendah, terutama jika bayi lahir prematur
  • Gangguan kondisi janin akibat komplikasi perdarahan pada ibu

Risiko komplikasi berbeda pada setiap kehamilan. Dengan diagnosis dini, pemantauan yang tepat, dan perencanaan persalinan yang sesuai, komplikasi dapat ditangani dengan lebih baik.

 

Apakah Ibu Dengan Plasenta Previa Bisa Melahirkan Normal?

Kemungkinan melahirkan normal bergantung pada posisi plasenta menjelang persalinan.

Jika plasenta masih menutupi sebagian atau seluruh pembukaan serviks, operasi caesar umumnya diperlukan untuk mengurangi risiko perdarahan berat. Persalinan melalui vagina tidak aman apabila plasenta menghalangi jalan lahir.

Namun, plasenta yang terlihat rendah pada awal kehamilan dapat menjauh dari pembukaan serviks seiring pertumbuhan rahim. Jika pada pemeriksaan berikutnya plasenta sudah berada pada jarak yang aman dan tidak terdapat komplikasi lain, persalinan normal mungkin dapat dipertimbangkan oleh Dokter.

Oleh karena itu, keputusan metode persalinan sebaiknya dibuat berdasarkan hasil USG menjelang persalinan dan evaluasi Dokter kandungan.

 

Bagaimana Cara Mencegah Plasenta Previa?

Tidak ada cara yang terbukti dapat mencegah seluruh kasus plasenta previa karena kondisi ini tidak selalu dapat dikendalikan.

Meski demikian, ibu dapat melakukan beberapa langkah untuk mendukung kehamilan yang sehat:

  • Melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur
  • Memberi tahu Dokter jika memiliki riwayat operasi caesar atau plasenta previa
  • Mengikuti jadwal USG sesuai anjuran tenaga medis
  • Menghindari rokok dan paparan asap rokok
  • Segera mencari pertolongan medis jika mengalami perdarahan selama kehamilan

Jika memiliki faktor risiko, diskusikan rencana pemantauan kehamilan dengan Dokter kandungan untuk membantu mendeteksi komplikasi lebih awal.

 

Kesimpulan

Plasenta previa adalah kondisi ketika plasenta berada di bagian bawah rahim dan menutupi atau mendekati pembukaan serviks. Gejala utamanya adalah perdarahan vagina yang sering kali tidak disertai rasa sakit, terutama pada trimester kedua atau ketiga. Diagnosis melalui USG, pemantauan rutin, serta penanganan yang sesuai sangat penting untuk mengurangi risiko komplikasi pada ibu dan bayi. Jika mengalami perdarahan saat hamil, segera cari pertolongan medis meskipun tidak disertai nyeri.

 

FAQ Plasenta Previa

Beberapa pertanyaan umum seputar plasenta previa adalah:

Apakah plasenta previa bisa sembuh dengan sendirinya?

Posisi plasenta yang rendah pada awal kehamilan dapat menjauh dari pembukaan serviks seiring pertumbuhan rahim. Namun, jika plasenta tetap menutupi jalan lahir menjelang persalinan, penanganan khusus mungkin diperlukan.

Apakah plasenta previa selalu menyebabkan perdarahan?

Tidak. Sebagian ibu hamil tidak mengalami gejala dan baru mengetahui kondisi ini saat pemeriksaan USG. Meski demikian, perdarahan dapat terjadi secara tiba-tiba.

Apakah plasenta previa bisa melahirkan normal?

Jika plasenta masih menutupi pembukaan serviks, operasi caesar umumnya diperlukan. Persalinan normal dapat dipertimbangkan jika posisi plasenta sudah aman dan dokter menilai persalinan melalui vagina memungkinkan.

Pada usia kehamilan berapa plasenta previa biasanya diketahui?

Kondisi ini dapat terdeteksi saat USG trimester kedua, umumnya sekitar usia kehamilan 18-22 minggu. Pemeriksaan ulang diperlukan untuk memastikan posisi plasenta menjelang persalinan.

Apakah ibu dengan plasenta previa boleh berjalan atau berolahraga?

Aktivitas yang diperbolehkan bergantung pada posisi plasenta, riwayat perdarahan, dan kondisi kehamilan. Konsultasikan dengan dokter kandungan sebelum berolahraga atau melakukan aktivitas berat.

Kapan ibu hamil dengan plasenta previa harus ke rumah sakit?

Segera ke IGD jika mengalami perdarahan dari vagina, kontraksi yang mengkhawatirkan, pusing berat, lemas, atau pingsan. Jangan menunggu hingga perdarahan menjadi banyak.

Published : 08/12/2023
Written By : The Healthy Belly

You Might Like

More Post >
ASI vs Susu Formula: Mana Yang Lebih Baik untuk Bayi?
Continue Reading
Penyakit Kuning Pada Bayi: Penyebab, Gejala, Pengobatan Yang Tersedia, dan Cara Mencegahnya
Continue Reading
MEET the AUTHOR
The Healthy Belly

Discussion

Top Picks

Rambut Rontok: Penyebab dan Cara Mencegahnya
Continue Reading
Vertigo: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dan Pencegahannya
Continue Reading
Bahaya Asap Karhutla Bagi Kesehatan dan Cara Melindungi Diri
Continue Reading
Keputihan: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya Secara Alami
Continue Reading